Lasik Smile

fin.co.id - 05/07/2025, 09:49 WIB

Lasik Smile

Dahlan Iskan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

MENGAPA KOMENTAR SAYA PAGI-PAGI SUDAH PANJANG DAN BEBERAPA..? Tadi pagi ada yang tanya, “Kok sepagi ini sudah kirim beberapa komentar panjang? Cepat amat ngetiknya!” Saya cuma senyum, lalu jawab begini—bukan karena istimewa, hanya kebetulan masa lalu saya memang melatih itu semua. Dulu, saya pernah jadi operator morse. Profesi yang menuntut kecepatan tangan dan konsentrasi tinggi. Dan dipersyaratkan harus bisa mengetik minimal 400 karakter per menit. Jadi, jemari ini sudah terbiasa nari sejak zaman telegram masih jadi primadona. Lalu, saat SMA, saya juga aktif di majalah dinding. Mulai dari wartawan sampai pemred di mading itu — lanjut nulis kajian, makalah dan seterusnya saat kerja. Jadi kerjanya banyak nulis. Karena saingannya di perusahaan ada, tapi umumnya "lama" nulisnya. Dari situ mungkin terbentuk kebiasaan: begitu ada ide, langsung mengalir jadi paragraf. Jadi kalau sekarang komentar saya muncul pagi-pagi dan cukup panjang, nggacor, itu bukan karena niat "tampil beda". Hanya karena jemari ini sudah terlalu betah berdansa dengan kata-kata. Sejak dulu kala. ### Itu saja. Tak lebih.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

“TIDAK SUDAH-SUDAHNYA”: KALIMAT SEDERHANA, MAKNA TAK BERUJUNG.. Dalam Catatan Harian Dahlan/DISWAY hari ini, ada kalimat penutup yang menggugah: “Mas Pungky..., Anda telah membuat sejarah dalam sekali hidup Anda: itu amal jariyah yang tidak sudah-sudahnya.” Kalimat itu sederhana, tapi mengandung kekuatan makna yang mendalam. Frasa “tidak sudah-sudahnya” terasa seperti bahasa tutur sehari-hari—bukan baku, tapi justru penuh kehangatan. Ia bukan sekadar sinonim dari “tak berkesudahan” atau “tak pernah usai." Melainkan menghadirkan nuansa emosional yang lebih dekat dan membumi. Dalam konteks amal jariyah, ungkapan ini seperti ingin mengatakan: Kebaikan itu akan terus hidup, terus mengalir, terus tumbuh—tanpa pernah selesai. Bahkan setelah kita tak ada. Bahasa ini khas pak Dahlan: ringan, tapi menghentak. Tidak muluk, tapi menyentuh. Kata-kata yang mungkin tak ditemui di buku tata bahasa, tapi justru hidup di hati para pembacanya. Dan mungkin, memang seperti itulah amal yang tulus: tak pernah ingin selesai. ### Tidak sudah-sudahnya.

my Ando

testimoni QRIS meski tidak sering saya senang bertransaksi by QRIS lancar dan super cepat biasanya saya diantara banyak pilihan pembayaran saat saya top up judol eh maaf maksud.saya beli paket data ataupun beli token selalu saya pilih by QRIS trouble...? pernah sih sekali dan komplain by phone ke Bank langsung diproses utk cancel trx dan masuk saldo lancar terus... ? lha ini pertanyaan sesungguhnya... betulkah akan lancar terus, atau skrng kancar gara² lom bnyk trx yg tercover jangan² sperti kebanyakan vendor digita semakin banyak user semakin berkurang kapasitas layanan ekspansi nya, amg tidak krn QRIS mrupakan salah satu pencapaian luar biasa NKRI berikutnya mgkn single idenfification number bisa terwujud stelah puluhan tahun banyak prototype yg gagal menjadi pioner sperti halnya data e-ktp vs data inafis polri yg jalan masing²

Mbah Mars

“Uang yg pas saja Pak”, selalu begitu respon bakul buah langganan saya saat saya sodori uang Sukarno-Hatta. Kerepotan transaksi macam itu teratasi dengan QRIS. Dulu setiap mau transaksi dengan model gesek kartu di depan kasir, saya selalu bertanya, “Dengan kartu ini, kena biaya tidak ?” Dengan QRIS, biaya transaksi 0 rupiah. Dua hal ituyang saya rasakan tentang manfaat QRIS. QRIS memang sakti. Bahkan mungkin lebih sakti dibanding keris. Jaman old kemana-mana membawa senjata keris. Now, kemana-mana bawa QRIS.

Jokosp Sp

4, Istri boleh tahan dompet dan kartu ATM, terpenting HP tidak disandra ( Bli Leong).

Sadewa 19

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID