Bali Lombok
Tanggal 3 Oktober 2026, tidak hanya ada persiapan Grand Prix MotoGP di Lombok; ada juga media baru bernama Disway Lombok –bagian dari jaringan media Disway National Network (DNN).
Tanggal 3 Oktober 2026, tidak hanya ada persiapan Grand Prix MotoGP di Lombok; ada juga media baru bernama Disway Lombok –bagian dari jaringan media Disway National Network (DNN).
Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto –mungkin hari ini ia sudah naik pangkat dari Komjen bintang tiga ke Jenderal Polisi bintang empat.
Oleh: Dahlan Iskan. Saya ke kantor pusat Agrinas Pangan Nusantara Senin lalu. Saya tidak punya target apa-apa. Hanya ingin ketemu direktur utamanya, Joao Angelo De Sousa Mota
Senin kemarin saya ke sana. Pagi-pagi, begitu selesai satu jam senam-dansa di Monas dua relawan gerakan Dunia Satu Keluarga sudah menjemput saya. Langsung menuju Banten.
Mengejutkan: Danantara akan mendirikan industri tekstil Indonesia. Sulit dipahami: mengapa Danantara mau masuk ke industri yang persaingannya sangat ketat –yang memerlukan efisiensi tingkat dewa.
Pertemuan kedua dengan Gus Kikin kemarin bisa lebih khusus: di rumahnya di kompleks pondok pesantren Tebuireng.
Medan. Saya hanya punya waktu me time dua jam di Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si Bolang --dua-duanya restoran khusus durian.
Inilah orang yang paling dicari –dan mungkin dimaki-maki– oleh mereka yang terpilih sebagai pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Lilur. Nama lengkapnya Gus Haji Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy.
Satu lagi: gagasan besar muncul dari Presiden Prabowo. Pasti perlu anggaran besar lagi: sekolah gratis sampai tingkat perguruan tinggi.
Apa boleh buat: Bank Indonesia pun harus mendatangkan cabai dari Probolinggo, Jawa Timur. Dua ton. Dikirim ke Manado: lagi ada ''krisis'' cabai di sana.
Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.
Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa Arab
Di depan gerai Cap Tikus saya disalami penumpang yang akan satu pesawat menuju Makassar. Kami memang sama-sama mengejar pesawat terpagi dari Manado.
Gara-gara ke Paputungan (Disway 17 September 2026: William Paputungan) saya tidak sempat mampir ke pabrik yang sangat top di Manado: pabrik minuman keras Cap Tikus
Kalau saja Presiden Donald Trump punya jenggot, kebakaran hutan itu pindah ke jenggot Trump: Kanada, tetangga sebelah rumah Amerika akan menjadi anggota Uni Eropa.
Satu-satunya kendaraan yang tidak punya batas umur adalah kapal. Tidak ada satu aturan pun –termasuk di negara maju– yang menentukan usia pensiun sebuah kapal.
Tiba-tiba tiket ke Manado saya dibatalkan. Tanpa alasan. Diganti yang lewat Makassar. Akibatnya, saya harus berangkat lebih pagi dan tiba di Manado lebih malam
Pakai cara apa pun toh hasilnya sama: diberhentikan. Lebih baik cepat diberitahu daripada kepikiran berlama-lama.
Pendek sekali umur kebijakan ''baru'' di bidang keuangan kita: hanya satu tahun. Walhasil setidaknya satu teori ''baru'' sempat dicoba di Indonesia: kebijakan memompa peredaran uang di masyarakat.
Toko memberi potongan harga 15 persen, tapi mengenakan pajak 11 persen. Berapa yang harus dibayar oleh pembeli?