Kabawa Hente
Saya berlinang membaca WA-WA kekhawatiran Evi yang tidak dibalas suami. Evi, hari Senin malam itu, tidak tidur semalam suntuk
Saya berlinang membaca WA-WA kekhawatiran Evi yang tidak dibalas suami. Evi, hari Senin malam itu, tidak tidur semalam suntuk
Ketia menulis desil kemarin saya tidak membahas tentang desilnya Indonesia. Saya membahas desil itu sendiri
Pesawat Garuda dari Jeddah akan mendarat di Kertajati lantaran Soekarno-Hatta ditutup akibat abu letusan gunung Anak Krakatau kemarin.
Dengar heboh ''desil'' saya ingat ''desi'': --desimeter. Sudah begitu lama istilah desimeter meninggal dunia. Orang lebih suka menyebut ''10 sentimeter''
Tentu saya jawab ”boleh”. Hak Ibrahim Arief (Ibam) untuk menanggapi dan membela diri. Apalagi hukumannya diperberat di tingkat banding: dari empat tahun ke lima tahun.
Sudah lupa, saking lamanya, kapan putusan pengadilan banding justru lebih berat. Tahu-tahu terjadi pekan lalu
Tidak hanya mereka yang mempertaruhkan nyawa di medan perang yang bisa disebut patriot.
Manusia Indonesia kelihatannya sudah tidak berdaya menghadapi kebakaran hutan dan kekeringan. Mereka pun pilih bersandar kepada Tuhan.
Maka Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) punya makna: orang-orang yang punya keahlian menguraikan masalah rumit ''dan'' punya keahlian mengikatkan yang terberai lalu mampu membuat keputusan yang berkualitas dan bisa diterima semua pihak.
Puji Tuhan, akhirnya akal sehatlah yang menang di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang yang berakhir hari ini.
Di Dismorning dengan Prof Mahfud MD Jumat subuh lalu saya ajukan keberatan: kalau aparat hukumnya masih seperti sekarang apakah UU Perampasan Aset tidak membahayakan iklim ekonomi?
Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.
Ada semacam ayat baru menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dibuka Presiden Prabowo kemarin. Bunyi ''ayat'' itu: "la miftaha wa la yahya".
Ada juga Teuku Azmi Abubakar di situ: tokoh Aceh yang punya pustaka Tionghoa Peranakan di Banten. Ia alumnus teknik sipil Institut Teknologi Indonesia, Tangerang. Ia membangun gedung dua lantai untuk berbagai dokumen, buku, dan artefak Tionghoa Peranakan.
Di samping ada Muktamar NU dan seminar kebangsaan oleh paguyuban suku Hakka di Indonesia, hari ini --26 Agustus-- adalah ulang tahun emas PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Saya ingin merayakan secara khusus ultah ke-50 PT DI itu lewat tulisan hari ini.
Saya seperti jadi tertuduh di ”muktamar” Gondang, dekat Pacet (Lihat Disway kemarin: Bintang Perusuh). Padahal awalnya saya hanya ingin sedikit merendah:
Bintang ''muktamar'' kali ini dua orang muda: Sumhaji dan Ahmad Reza Ropi. Tambah satu lagi: Sujatmiko, ahli geologi ITB berusia 85 tahun.
Drama besar pelengseran bupati terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan. Pekan lalu DPRD setempat secara bulat memakzulkan Bupati Sitti Husniah Talenrang. Saya sebut drama karena tiga unsur ada di dalamnya: kekuasaan, uang, dan seks.
Harusnya saya memenuhi undangan eksklusif ini kemarin: expo helikopter di kawasan bandara Cengkareng Jakarta. Ada daya tarik khusus di situ: pesawat buatan anak-anak Indonesia yang disebut Vela. Itu helikopter tapi bukan helikopter.
Heran. Soal ”kupas bawang” masih terus mendominasi percakapan jagat maya. Istana pantas sewot. Begitu banyak isu besar yang ingin ditonjolkan sebagai prestasi Presiden Prabowo namun yang jadi pembicaraan tetap saja: kupas bawang dengan upah Rp 700.000/kg.
Hampir pasti peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).