Oleh: Dahlan Iskan
Anda sudah tahu: pemimpin yang baik adalah yang bisa mengajak rakyatnya ikut membangun.
Ups...tidak sepenuhnya bagitu. Itu terlalu lambat. Pemimpin bisa tidak sabar. Apalagi kalau bergegas menginginkan hasil: yang bisa dipakai modal untuk merebut periode kedua.
Ada istilah lama yang saya hampir lupa: partisipasi. Itu salah satu mantra Orde Baru. Kata partisipasi sangat populer sampai ke desa --sering diplesetkan jadi partisisapi. Sama populernya dengan kata ”proyek”. Ayah saya termasuk yang bisa mengucapkan ”partisipasi” dan ”proyek” tapi tidak tahu arti kedua kata itu.
Suatu saat ayah, tidak lulus SD, memanggil saya untuk duduk dekat di sebelahnya. "Dakelan," katanya lirih memanggil nama saya, "kok orang-orang sering ngomong 'proyek', itu artinya apa?" ujar ayah dalam bahasa Jawa setengah berbisik.
"Gak usah dipikir pak," jawab saya. "Yang penting bapak kan rajin partisisapi" tambah saya.
Maka ketika di Dismoring Rabu lalu saya usul agar proyek Universitas Republik Indonesia dicangkokkan ke universitas ternama yang sudah ada itu dalam rangka membangun partisipasi itu. Agar tidak semua program bersifat top down.
Ide membangun URI pastilah baik. Agar terbentuk calon pemimpin yang siap pakai. Pemimpin harus disiapkan. Bukan datang begitu saja. Bukan karena takdir atau wangsit.
Kalau benar ide URI terinspirasi dari ENA-nya Prancis (Lihat Disway 27 Juli 2026: Abu Putih), universitas yang ada tidak perlu merasa akan dapat saingan baru. URI tidak menerima lulusan SMA. Mahasiswa URI setidaknya sudah S-1. Bisa saja S-2 bahkan S-3. Bisa juga yang sudah berstatus pejabat pusat maupun daerah. Atau eksekutif di perusahaan swasta maupun BUMN. Bisa juga yang sudah berdinas di militer.
Yang penting lulus tes masuk. Seleksinya ketat. Yang dicari adalah bibit unggul calon pemimpin siap pakai. Pemimpin di segala tingkatan.
Baca Juga
Maka hasil URI sudah pasti tidak untuk dipakai senjata merebut periode kedua. URI lebih punya peluang untuk dipakai percontohan membangun lewat partisipasi.
Gubernur URI-lah yang merumuskan target yang harus dicapai program itu. Termasuk merumuskan ”kurikulum” untuk mencapai target.
Setelah itu adakan tender terbuka. Peserta tender adalah lembaga pendidikan tinggi yang sudah ada. Baik PTNBH maupun swasta. Termasuk IPDN dan Akademi Militer.
Dalam dokumen tender disertakan target capaian dan besarnya anggaran yang akan diberikan oleh negara. Kalau tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang ikut tender barulah pemerintah melaksanakan sendiri.
Tender serupa juga bisa dilaksanakan kalau pemerintah tertarik untuk membuat universitas riset. Tentukan riset apa saja yang dianggap prioritas untuk kemajuan bangsa ke depan. Targetnya seperti apa. Biaya yang disiapkan APBN berapa. Maka akan terwujud cepat keinginan untuk memiliki universitas riset.