Ruang Cerita

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Oleh: Derry Sutardi

Ada kalanya kebahagiaan tidak perlu dicari terlalu jauh. Tidak harus menempuh perjalanan berjam-jam, menginap di hotel mewah, atau menghabiskan banyak uang demi mengejar selembar foto yang layak dipamerkan di media sosial. Terkadang, kebahagiaan itu justru berdiri begitu dekat, menunggu untuk disapa.

Ya, begitulah sore itu.

Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.

Jembatan merah sepanjang 120 meter dengan lebar sekitar 1,8 meter itu membentang gagah di atas derasnya aliran Sungai Cisadane. Ia berdiri menjadi penghubung antara Desa Cibetung Muara dan Desa Rumpin, sekaligus menyatukan Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Rumpin di Kabupaten Bogor.

Dari pusat Kota Jakarta, lokasi ini mungkin hanya sekitar satu setengah jam perjalanan. Namun bagi saya yang tinggal di Ciseeng, tempat ini begitu dekat, seolah menjadi halaman belakang rumah yang selalu menawarkan cerita baru setiap akhir pekan.

Sesampainya di sana, semilir angin langsung menyapa wajah. Udara sore terasa begitu bersih. Langit mulai berubah warna, perlahan meninggalkan birunya menuju semburat jingga yang hangat.

Di bawah kaki kami, Sungai Cisadane mengalir tanpa lelah. Airnya berlari deras, memecah batu-batu besar di tepian, menghadirkan suara alam yang sulit digantikan oleh musik mana pun.

Sesekali saya berhenti melangkah.  Bukan karena lelah, tetapi karena ingin menikmati momen itu lebih lama.

Dari kejauhan, puluhan burung walet menari di langit. Mereka melesat cepat, berputar-putar mengikuti arus angin, seolah sedang berpentas di atas panggung alam yang tak pernah membutuhkan tepuk tangan penonton.

Pemandangan itu begitu sederhana.  Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat hati terasa penuh.

Jembatan Cisarum bukan hanya sekadar penghubung dua wilayah. Kini ia telah berubah menjadi ruang pertemuan berbagai cerita.

Anak-anak berlari riang.

Pasangan muda mengabadikan senja.

Berita Terkait