Tak lama kemudian, kami tiba di jalur yang sangat terkenal dan ditakuti para pendaki, yakni Bapak Tere.
'Tanjakan Bapa Tere'
Tanjakan ini hampir vertikal. Akar pohon seperti tangga alam yang licin. Batu-batu besar berdiri miring. Kaki gemetar hanya dengan melihatnya.
Satu-satunya cara menaikinya adalah merayap seperti cicak.
Carrier kami harus ditarik satu per satu dari atas karena beratnya membuat kami tidak stabil. Tangan tergores, lutut membiru, napas tersengal-sengal.
Tapi anehnya, justru di sini kami merasa paling hidup.
Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika akhirnya berhasil mencapai bagian akhir tanjakan
Benar, 'Bapak Tere' adalah jalur paling melelahkan, paling brutal, tapi juga paling berkesan.
Pos Pengasinan
Kami terus berjalan hingga akhirnya tiba di Pos Pengasinan, pos terakhir sebelum puncak. Namun nasib berkata lain.
Baca Juga
Begitu kami sampai, hujan turun dengan sangat lebat, langsung disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Petir menerangi langit dan menyambar pepohonan suara dentumannya membuat dada bergetar.
Tidak ada pilihan. Kami menatap satu sama lain dan sepakat, tidak naik puncak hari itu. Kami harus bertahan.
Kami mendirikan tenda di Pos Pengasinan dalam kondisi basah kuyup, dingin menggila, dan suara petir seperti genderang perang yang dipukul di langit.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.00 WIB dan malam panjang lain menunggu kami.