Ia tiba-tiba berhenti dan berkata dengan suara yang terdengar tertekan, hampir bergetar:
“Bang, kita nyasar kali ya? Ini jalur apaan sih? Kenapa sepi banget? Gue nggak enak nih perasaan,”
Kami langsung saling pandang. Kata-kata seperti itu di tengah hutan sunyi bisa memicu kepanikan berantai.
Saya, yang dipercaya sebagai leader, segera mengambil alih.
Dengan suara tegas tapi tenang saya berkata: “Udah. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Fokus jalan aja. Kita nggak nyasar. Ini jalur resmi, walau sepi. Terus jalan,”
Perkataan itu menenangkan meski dalam hati kami sebenarnya sama-sama khawatir. Jalur Linggar Jati bukan jalur populer dan faktanya memang sudah lama tidak dilewati. Tapi tidak ada pilihan lain selain maju.
Langkah kembali diayunkan, meski kepala penuh keraguan.
Magrib di 'Kuburan Kuda'
Jam menunjukkan 18.12 WIB. Langit mulai gelap cepat. Dari kejauhan terdengar suara azan Magrib mengalun dari perkampungan kaki gunung lantunan kecil yang terasa sangat jauh tapi menghangatkan hati
Baca Juga
Kami saling berhenti dan sepakat. Pendakian harus dihentikan, kami perlu bermalam
Setelah melihat sekitar, kami sadar satu hal, kami berhenti tepat di jalur yang dikenal sebagai 'Kuburan Kuda'.
Nama itu saja sudah membuat tengkuk terasa dingin. Jalur ini terkenal dari mulut ke mulut para pendaki senior.
Banyak cerita mistis, kabarnya tempat itu angker, banyak kejadian janggal, dan katanya kerap terdengar langkah kuda di malam hari.
Kami baru sadar sepenuhnya ketika Ben berkata pelan: “Ya udah. Di sini aja. Mau gimana lagi? Udah gelap,”