Saat tenda berdiri, kabut tebal turun tiba-tiba. Udara dingin menusuk tulang, membuat gigi bergemeletuk.
Tubuh menggigil, bukan hanya karena cuaca, tapi juga karena cerita-cerita yang mulai bergerak di kepala.
Kami menyalakan api unggun kecil. Siapapun yang pernah mendaki gunung tahu bahwa api unggun, dalam kondisi seperti itu, bukan sekadar penghangat, tapi juga penyelamat mental.
Seruput kopi hitam, jahe panas, dan canda yang dipaksakan menjadi cara kami menepis rasa takut.
Suara burung malam, dentuman ranting patah, hewan kecil berlari di semak, angin yang menyeret daun kering, semua terdengar lebih keras dari seharusnya.
Beberapa kali kami saling tatap ketika terdengar suara dari arah belakang tenda. Tapi kami memilih untuk tidak membahasnya.
Tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang panik. Kami tidur dalam kondisi setengah sadar, setengah berjaga
Pos Bartu Lingga
Pagi datang seperti hadiah. Matahari mengintip malu di balik pepohonan dan kabut perlahan menipis.
Kami bergegas membereskan tenda dan melanjutkan perjalanan menuju Pos Batu Lingga.
Baca Juga
Di tengah perjalanan, kami tiba-tiba menemukan tumpukan batu yang rapi, dilapisi kain putih, dan di atasnya terdapat sesajen, makanan, bunga, dan dupa yang sudah padam.
Kami sedang lapar. Sangat lapar!
Barry berseru bercanda tapi jelas dia separuh serius: “Bang, kalau gue ambil dikit boleh nggak ya?,”
Namun secepat itu juga saya teringat pesan Pak HM: “Jangan berbuat apa-apa yang melanggar. Jangan sentuh apapun yang bukan milik kalian,”
Sesajen itu tidak kami usik. Kami berjalan pergi dengan langkah yang cepat, mencoba tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain.