Pos pendakian benar-benar kosong. Tak ada pendaki lain. Tak ada suara aktivitas dan tak ada petugas.
Hanya kami berempat. Duduk menunggu sambil sesekali memejamkan mata di bale-bale bambu yang jadi tempat kami menumpang tidur singkat.
Jam menunjuk pukul 04.30, kemudian 05.00, lalu 06.00. Hingga akhirnya jam 07.00 seorang petugas datang.
Ia menghampiri kami dengan wajah sedikit terkejut melihat ada empat anak muda yang sudah menunggu sejak subuh.
Namanya Pak 'HM'. “Mau ke mana kalian?” tanyanya sambil melihat carrier kami.
“Mendaki pak,” saut kami
Beliau menatap kami beberapa detik, lalu bertanya lagi dengan nada heran:
“Kenapa nggak lewat Palutungan saja?”
Kami makin bingung.
“Memangnya jalur Linggar Jati kenapa ya, Pak?” tanya saya.
Baca Juga
Pak HM menghela napas pendek.
“Jalur Linggar Jati sudah lama nggak dipakai pendaki. Sekarang jalur resminya dari Palutungan. Jalur sini mau ditutup. Berbahaya. Tidak ada air sama sekali. Banyak jalur longsor. Kalau mau naik, kalian pikirkan ulang.”
Kalimat itu langsung membuat kami terdiam.
Jujur saja, kami panik. Bayangkan, sudah sampai lokasi, tapi jalur pendakian ternyata dianggap sangat berbahaya dan nyaris ditutup.
Pilihan paling aman tentu ke Palutungan, tapi jaraknya masih sangat jauh, butuh naik bus lagi ke arah Kuningan.