Oleh: Sahroni
_____________
Di balik riak air Danau Cipondoh, tersimpan cerita sederhana para pemancing. Mereka datang untuk mencari ikan sekaligus menikmati ketenangan, kesabaran, dan keindahan alam.
Langit sore pada Minggu, 31 Mei 2026, tidak sedang cerah. Gumpalan awan berwarna abu-abu menggantung rendah di atas Danau Cipondoh, menutupi sebagian sinar matahari yang biasanya memantul terang di permukaan air.
Namun bagi mereka yang datang ke tempat ini, cuaca seperti itu bukanlah alasan untuk beranjak pulang.
Di sebuah saung sederhana dari bambu beratapkan terpal yang sudah mulai rusak tepat di tepi danau, saya (penulis) bersama teman duduk berdampingan. Joran kami mengarah ke permukaan air yang tenang.
Tidak banyak kata yang terucap. Sesekali hanya terdengar suara kicauan burung berbarengan dengan hembusan angin sepoi-sepoi, dan percikan kecil dari ikan yang muncul. Di tempat seperti ini, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Danau Cipondoh yang berada di Kota Tangerang memang telah lama menjadi ruang pelarian bagi warga yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan kota.
Buat para pemancing, mereka cukup membawa sebuah joran, umpan, dan kesabaran. Dengan begitu, sore yang sederhana dapat berubah menjadi pengalaman yang menenangkan.
Dari tempat para pemancing duduk, hamparan air terlihat membentang luas. selain itu, tampak juga keramba-keramba ikan yang kemungkinan menjadi sumber penghidupan sebagian warga sekitar.
Baca Juga
Tidak hanya itu saja, di antara hamparan air, eceng gondok terlihat tumbuh dengan subur, mereka seakan bergerak perlahan mengikuti arah angin.
Pemandangan tersebut tentu menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota yang terus berkembang.
Menunggu yang Tak Selalu Tentang Ikan
Memancing sering kali dianggap sekadar hobi. Namun bagi sebagian orang, aktivitas tersebut memiliki penilaian tersendiri. Salah satunya seperti, seni dalam menikmati waktu.