Kami mendaki Gunung Ceremai bukan hanya untuk mencapai puncak, tetapi untuk mencari sesuatu yang bahkan tidak kami pahami di awal perjalanan, keberanian menghadapi sepi, ketakutan, dan diri sendiri.
Oleh : Derry Sutardi
Pertengahan tahun 2018 menjadi salah satu momen yang tak akan pernah saya lupakan. Kala itu, saya (Derry Sutardi) bersama tiga sahabat, Ramdan, Barry, dan Ben memutuskan melakukan pendakian ke Gunung Ceremai, gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl).
Semua berawal dari obrolan sederhana di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang akhirnya berubah menjadi perjalanan penuh keheningan, tanda tanya, dan adrenalin.
Kami berempat berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jumat malam pukul 22.00 WIB. Terminal masih ramai oleh para pendaki yang bercampur dengan pelancong biasa.
Ketika bus melaju keluar Jakarta, rasa antusias langsung mengubah lelah jadi energi baru.
Di dalam bus, kami banyak bertemu pendaki lain. Tas-tas carrier, sepatu gunung, trekking pole, bahkan aroma khas minyak kayu putih begitu terasa. Dan hampir semuanya berkata mereka juga menuju Gunung Ceremai.
Namun ada satu keanehan yang kami rasakan kemudian. Saat bus tiba di Linggar Jati sekitar pukul 04.00 WIB, kami berempat turun. Tapi tak ada satu pun rombongan pendaki lain yang turun bersama kami.
Semuanya tetap duduk manis di bus. Kami saling pandang.
“Loh, kok nggak ada yang turun?” bisik Barry.
Baca Juga
“Katanya mau ke Ceremai kan?” sambung Ramdan.
Barulah kemudian kami mendengar info dari kernet bahwa mereka memilih mendaki dari jalur Palutungan, Kuningan. Bukan Linggar Jati.
Sejak saat itu kami mulai bertanya-tanya, ada apa dengan jalur Linggar Jati?
Pagi yang Sepi di Pos Pendakian
Dari tempat turun bus, kami berjalan kaki menuju pos pendaftaran. Suasana masih gelap, dingin, dan sunyi. Dan ketika sampai di lokasi, kecurigaan itu makin kuat.