Sejujurnya, bulu kuduk saya sempat berdiri.
Namun pendakian tetap dilanjutkan. Sesekali suara ranting patah mengagetkan kami dan hembusan angin terdengar seperti bisikan.
Tapi justru itulah yang membuat jalur Linggar Jati punya pesonanya sendiri.
Semakin jauh kami melangkah, semakin jarang kami berbicara. Nafas semakin berat, dan kaki mulai kaku menanjak.
Sesekali kami berhenti bukan hanya untuk menyeduh udara, tapi untuk sekadar menenangkan diri dari panjangnya jalur yang seolah tak berujung.
Setiap berhenti, kami meminum seteguk air yang rasanya seperti emas cair, dingin, segar, dan menghidupkan. Di tengah jalur yang gersang tanpa sumber air, setiap tetes terasa seperti hadiah.
Tiba di Pos Lingga Buana
Sekitar pukul 09.00 WIB, akhirnya kami tiba di Pos Lingga Buana
Begitu sampai, kami langsung merebahkan tubuh di tanah yang lembut. Tidak peduli kotor atau lembab, rasa lelah mengalahkan segalanya.
Hutan di sekitar kami rimbun, hijau, dan sejuk tapi sunyinya begitu total, sampai-sampai telinga terasa berdenging.
Baca Juga
Tidak ada suara selain dedaunan digelitik angin dan satu burung kecil berwarna cokelat keemasan yang, entah bagaimana, terus mengikuti kami sejak kaki pertama melangkah dari bawah.
Burung itu melompat dari ranting ke ranting, jarak tak pernah jauh dari kami. Ada yang merasa itu hanya kebetulan, tapi di dalam hati kecil kami, ada tanda tanya: Apakah ia sekadar menemani, atau sedang memperingatkan?
Kami memilih untuk menganggapnya sebagai pertanda baik. Apa lagi yang bisa kami lakukan?
Pendakian pun berlanjut. Langkah demi langkah, jalur makin menanjak dan makin jarang memberikan ruang untuk bernapas.
Di sinilah Ramdan, salah satu dari kami mulai goyah.