Cerita Pendakian Gunung Ceremai: Menembus Kabut Keraguan

fin.co.id - 29/11/2025, 16:43 WIB

Cerita Pendakian Gunung Ceremai: Menembus Kabut Keraguan

Namun kami sudah berada di depan jalur. Sudah bersiap jauh-jauh dari Jakarta dan rasa penasaran kami cukup besar.

Saya yang dianggap paling berpengalaman di antara tim, mencoba berdiskusi dengan Pak HM.

“Pak, kami sudah siap. Bisa nggak kalau tetap naik dari sini?”

Pak HM awalnya menolak. Tapi melihat tekad kami, akhirnya ia memberi izin dengan syarat sangat ketat.

Syarat pertama membuat kami langsung terdiam. Salah satu dari kami harus menandatangani surat bermaterai bahwa seluruh risiko pendakian menjadi tanggung jawab kami sendiri.

Syarat kedua, masing-masing harus membawa lima liter air di luar air minum botol. “Di atas tidak ada air. Tidak ada sama sekali,” tegas Pak HM.

Syarat ketiga, tidak boleh memaksakan diri jika menemukan jalur rusak atau rawan longsor.

Syarat keempat, wajib melapor saat kembali turun, apapun yang terjadi.

Melihat keseriusan syarat itu, saya mulai merasa jalur Linggar Jati bukan jalur biasa.

Bahkan dalam cerita para pendaki, jalur ini terkenal mistis. Banyak kisah horor, jalur sunyi, hutan rapat, dan trek yang konon jauh lebih berat dibanding Palutungan.

Tapi entah kenapa, rasa takut justru jadi bumbu petualangan. Kami berempat sama-sama sepakat untuk lanjut.

Begitu melewati gerbang jalur, suasananya langsung hening. Tak ada suara pendaki lain. Tak ada obrolan riuh. Tak ada derap langkah ransel lain.

Hening. Sunyi. Seperti gunung ini hanya milik kami berempat.

Vegetasi rapat, jalur sempit, beberapa titik mulai tampak licin. Pohon-pohon besar berdiri seperti penjaga tua.

Lalu saya teringat ucapan Pak HM: “Jalur ini mulai ditutupSudah jarang dipakai manusia.”

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID