Mati Besok

fin.co.id - 17/06/2026, 05:27 WIB

Mati Besok

Ilustrasi ketika perdamaian menjadi denyut harapan baru bagi ekonomi yang nyaris kolaps.--

Oleh: Dahlan Iskan

Aneh. Belum juga ada tanggapan dari Indonesia –soal tercapainya kesepakatan damai Amerika-Iran. Padahal Indonesia mestinya amat-sangat gembira. Dengan perdamaian itu komplikasi persoalan di Indonesia sangat berkurang.

Sebelum ada perdamaian itu saya sempat membayangkan Indonesia dalam keadaan adu cepat antara usaha perbaikan dengan bertambahnya komplikasi persoalan. Kalau komplikasinya lebih cepat, bahaya sekali. Bisa meledak.

Awalnya Indonesia bisa bersikap tetap tenang. Memang ada beberapa persoalan tapi kalau tidak terjadi komplikasi masih bisa diatasi: inflasi masih rendah, pertumbuhan ekonomi masih meningkat, cadangan devisa tinggi, ekspor-impor surplus, struktur perbankan sudah sangat kuat –sampai punya dana besar penjaminan deposito yang tidak pernah terpakai.

Ternyata perang Amerika-Iran berkepanjangan. Harga minyak tidak kunjung turun. Bursa saham ambruk. Rupiah merosot. Tapi tetap tidak ada gejolak. Pemerintah masih yakin fondasi ekonomi kuat.

Akhirnya, mulai tampak tidak lagi kuat. Harga Pertamax terpaksa naik. Tajam. Sekitar 30 persen. Mulailah terjadi satu komplikasi. Inflasi rendah yang selalu jadi peredam bisa berubah: kita tunggu angka inflasi dari BPS bulan depan.

Tanda-tanda akan terjadi komplikasi-lanjutan bisa direm dengan sukses: kepala dan dua wakil kepala Badan Gizi Nasional diberhentikan –lalu ditangkap. Efisiensi di program Makan Bergizi Gratis akan dilakukan.

Lomba cepat itu akan terus berlangsung. Cepat mana bertambahnya komplikasi atau banyaknya perbaikan yang dilakukan pemerintah.

Kini pemerintah dapat angin segar: harga minyak mentah mulai turun sebelum aneka komplikasi berkelindan jadi satu revolusi. Dengan turunnya harga minyak, pemerintah bisa sedikit lebih tenang dalam mencegah komplikasi lanjutan. Utamanya setelah gerakan mahasiswa mulai kembali turun ke jalan.

Kasus terakhir di Bea Cukai seharusnya bisa menyadarkan Presiden Prabowo bahwa tidak semua temannya bisa diajak bekerja ikhlas membangun negeri. Padahal pengangkatan temannya menjadi pejabat baru dirjen Bea Cukai itu diniatkan untuk bersih-bersih Bea Cukai habis-habisan.

Ia tentara. Kopassus. Bintang tiga. Kurang apa. Setelah setahun menjabat ketahuanlah cerita ulangan di instansi basah itu.

Betapa besar harapan Prabowo kepada temannya itu. Seberapa besar keinginannya untuk membuat Bea Cukai sumber pendapatan yang penting di saat negara kesulitan uang. Sampai-sampai Prabowo mengingatkan kejadian di zaman Pak Harto yang Bea Cukai Indonesia sampai diserahkan ke perusahaan swasta dari Prancis.

Maka agar tidak perlu terulang seperti itu ia pilih temannya sendiri untuk menjabat dirjen Bea Cukai.

Kini berarti sudah tiga teman kepercayaan Prabowo yang mengecewakannya –juga mengecewakan Anda. Padahal waktu tidak berhenti berlari. Sebentar lagi Presiden Prabowo pun sudah akan kehilangan waktu dua tahun. Tinggal dua tahun lagi pemerintahannya efektif. Di tahun kelima sudah banyak urusan pemilu dan pilpres tahun 2029.

Ibarat petinju yang kian terpojok, ekonomi Indonesia diselamatkan oleh lonceng perdamaian. Memang kondisinya belum separah Pakistan. Tapi kalau perang terus berlangsung jumlah komplikasinya terus bertambah.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca