"Ya marah-marah awalnya," jawabnya.
"Lalu bagaimana jawaban Anda kepada istri?"
"Saya jawab: hobi saya kan cuma ini. Saya kan tidak hobi perempuan," katanya.
Jawaban itu jadi kunci selamanya. Istrinya tidak pernah komplain lagi.
Di museum wayang ini saya otomatis membandingkannya dengan rumah-rumah bersejarah di Banda. Di sana ada ibu tua yang duduk apatis di pojokan. Di museum wayang ini ada Dea. Putri Njoo. Muda. Cantik. Modern. Antusias.
Awalnya saya ragu kalau gadis ini putri pemiliknya. Wajahnyi sangat Tionghoa. Matanyi sangat cendekia. Tapi ngomong tentang wayang begitu tahunya. "Saya mencoba mendalaminya," ujar Dea
"Anda alumnus mana?"
"Universitas Ciputra. Jurusan bisnis internasional," jawab Dea.
Dea bercerita papanya suka sekali nonton wayang. Sejak kecil ibunya selalu bercerita tentang wayang. Njoo juga suka ludruk dan ketoprak. "Tiap malam papa nyetel ludruk Kartolo sebagai pengantar tidur," ujar Dea.
Papa Dea juga penggemar Si Unyil. Utamanya Pak Raden. Papa Dea sering kirim surat ke Pak Raden. Sampai akhirnya bisa bertemu Pak Raden.
Baca Juga
Itulah sebabnya di museum yang diberi nama Gubuk Wayang ini penuh dengan boneka Si Unyil. Lengkap sekali. Sampai dapat belasan rekor MURI yang dipajang di salah satu lemari kaca di sana.
Pemilik Gubuk Wayang ini pandai membuat daya tarik. Ibarat wartawan ia pandai membuat "lead" --alinea pembuka sebuah tulisan. Di bagian paling depan museum dipajang etalase yang diselimuti kain hitam. Misterius.
"Benda apa yang diselimuti ini" tanya saya.
"Setan," jawab Dea.
"Kenapa diselimuti?"