Maka pembicaraan pun pindah ke soal novel itu. John berbinar-binar. Sambil menceritakan perjalanannya lebih 10 kali ke Indonesia --mulai Jambi sampai Wamena.
John juga punya kejengkelan lain selain pada Trump. Di novel itu ia menulis soal demokrasi, kebebasan, dan bahayanya totalitarian. Harapannya, waktu itu, Indonesia segera jadi negara demokrasi.
"Berarti Anda harus juga menulis novel seperti ini untuk Amerika," kata saya. John dan Chris tertawa. Baguslah. Sudah bisa tertawa.
"Baiknya Anda segera move on," kata saya lagi.
Keesokan harinya si dokter melihat saya sedang move on: senam-dansa. Sendirian. Di lantai bawah. Di dalam ruangan. Saya tidak berani senam outdoor di teras atas atau di halaman. Dingin sekali.
"Ikut saya," katanya.
"Ke mana?"
Baca Juga
"Jalan kaki. Lima kilometer. Saya tiap hari jalan kaki sejauh itu."
Saya pun ambil jaket Persebaya model baru. Lebih tebal. Cocok untuk cuaca musim gugur.
Jaket Varsity Persebaya yang dipakai Dahlan Iskan selama di Amerika Serikat.--