Gu Lebang

fin.co.id - 28/05/2026, 05:46 WIB

Gu Lebang

Saya perhatikan: berapa kalikah Imam mengucapkan komando ''Allahu Akbar'' di awal salat: tiga kali saja. Bukan sembilan kali seperti di Indonesia.

Di rakaat kedua, Imam langsung membaca Al Fatihah. Tidak diawali dengan Allahu Akbar sama sekali --di Indonesia diawali Allahu Akbar tujuh kali.

Setelah Al Fatihah Imam langsung membaca surah kulhu yang pendek itu. Lalu, "Allahu Akbar," seru Imam setelah selesai baca kulhu.

Saya pun otomatis membuat gerakan rukuk membungkuk. Jemaah di kanan kiri saya tidak. Ternyata, setelah kulhu itu, Imam membaca Allahu Akbar tiga kali. Barulah rukuk. Saya tersenyum malu saat membatalkan rukuk yang akibat kecele itu.

Selesai salat, saya menemui Imam. Berkenalan. Sekalian agar yang salat di lantai dua dan tiga lebih dulu memakai tangga turun. Agar tidak berdesakan. Begitulah memang pengumuman yang dikumandangkan: agar yang di lantai empat lebih bersabar.

"Berapa korban kambing di masjid ini tahun ini?"

"Banyak sekali. Lebih seratus," ujar Pak Imam yang bermarga He (何春光).

"Di mana pelaksanaan penyembelihan kurbannya?"

"Di tempat penyembelihan kambing," jawabnya. Di Tiongkok penyembelihan hewan memang tidak boleh di sembarang tempat. Kurban pun wujudnya uang. Panitia masjidlah yang membelikan hewannya.

Di Tiongkok Iduladha disebut hari raya Gu Le Bang (古尔邦).

Coba Anda ulangi dan ulangi pelan-pelan kata itu: rupanya diambil dari bahasa Arab ''Kurban''. (Dahlan Iskan)

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca