Senja di Jakarta sering kali identik dengan klakson yang bersahutan dan wajah lelah di balik kaca kendaraan. Namun, sore itu saya menemukan sisi lain ibu kota yang lebih "manusiawi". Di tepi Banjir Kanal Timur (BKT), saya belajar bahwa untuk merasa tenang, kita tidak selalu butuh sofa empuk atau ruangan berpendingin udara. Cukup segelas kopi plastik dan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma gorengan.
Mihardi - JAKARTA TIMUR
Sabtu sore, 17 Januari 2026, di kawasan Duren Sawit, matahari mulai turun perlahan. Cahayanya yang keemasan memantul di permukaan air kanal, menciptakan gradasi warna yang cantik, meski kita tahu ini adalah saluran pengendali banjir. Saya datang bersama seorang kawan lama yang sudah penat dengan urusan kantor.
Awalnya, kami hanya berniat singgah sebentar. Namun, suasana BKT punya cara unik untuk menahan langkah kaki. Tidak ada tiket masuk, tidak ada protokol rumit. Siapa pun, dari yang pakai sepatu kulit hingga yang beralas sandal jepit, punya hak yang sama untuk duduk di sini.
"Kopi, Bang? Hitam atau susu?" tanya seorang pria paruh baya yang mengayuh sepeda penuh rencengan sachet minuman.
Inilah "Starbucks Keliling" atau yang akrab dipanggil Starling. Tanpa mesin espresso canggih, mereka adalah pahlawan bagi para pencari kafein murah meriah.
"Kopi hitam satu, Mang. Panas ya," sahut saya.
Hanya dengan Rp5.000, segelas kopi panas berpindah tangan. Rasanya? Tentu saja tidak kalah dengan kopi di mal jika diminum sambil menatap senja. Di sebelah kami, aroma kerang hijau rebus dan telur gulung mulai menggoda iman. Kami pun menyerah dan memesan seporsi gorengan yang masih berasap.
Baca Juga
Sambil menyeruput kopi, mata saya menangkap pemandangan yang hangat. Ada keluarga kecil yang asyik bercengkerama, ada pula pekerja yang masih mengenakan seragam, duduk sendirian sambil memandang air, seolah sedang melakukan meditasi di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
BKT memang dibangun dengan fungsi teknis yang serius: mengendalikan banjir dan mengalirkan air sungai agar warga tidak kebanjiran. Namun, entah sejak kapan, fungsi itu meluas. Ia berubah menjadi ruang sosial yang hidup, tempat orang-orang mencari jeda dari kerasnya kehidupan kota.
"Ternyata mewah itu nggak harus mahal ya," celetuk kawan saya sambil mengunyah bakwan.
Saya setuju. Di tengah Jakarta yang serba cepat dan mahal, BKT menawarkan kemewahan kecil yang membumi. Tanpa sekat, tanpa gengsi.