Bekerja di instansi pemerintah sering kali identik dengan gedung-gedung tua yang menyimpan sejarah panjang. Namun, di balik dinding-dinding kokoh sebuah kantor negara di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, tersimpan kisah mistis yang masih membekas hingga saat ini.
Ari Nurcahyo - Jakarta
Sigit Andiosa, seorang mantan asisten pribadi (aspri) Pejabat, menceritakan pengalaman mengerikannya saat bekerja di gedung tersebut sekitar tahun 2017. Gedung (kantor negara) yang berlokasi sangat dekat dengan Stasiun Kalibata ini merupakan bangunan tua yang dibangun sekitar tahun 1970-an, dan jarang mendapatkan renovasi atau perbaikan berskala besar.
Ia menuturkan, peristiwa mencekam terjadi ketika dirinya harus bekerja lembur untuk menyiapkan berkas presentasi serta tiket perjalanan dinas untuk atasannya. Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.00 WIB. Kala itu seluruh karyawan bergegas pulang dan meninggalkan ruangan, hanya ia saja yang masih bekerja.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, tak sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 19 lewat, adzan Isya pun berkumandang. Sigit melihat sosok rekan kerjanya yang bernama Ines, sedang berjalan membelakanginya di lorong lantai dua.
"Saya kenal betul sosok itu. Dia memakai seragam coklat khas pegawai negeri lengkap dengan sweater andalannya. Rambutnya panjang, persis Ines," ujar Sigit, menuturkan keyakinannya bahwa ia tak mungkin salah orang.
Sigit pun merasa tenang bahwa dirinya tidak sendirian dan masih ada rekan lainnya untuk bisa berbincang sambil berjalan pulang. Sigit pun memanggil Ines, namun anehnya, berkali-kali ia menyebut "Ines..." namun sosok itu tak mengindahkannya. Lantas justru terjadi sesuatu yang tidak masuk akal.
Sosok yang ia panggil, ternyata hanya menengok sekilas sembari melempar senyum tipis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kejanggalan memuncak saat sosok tersebut berjalan menuju pintu darurat.
Alih-alih mendorong pintu besi yang terkenal sangat berat dan seret itu, sosok menyerupai Ines itu malah berjalan menembus dinding dan pintu tanpa hambatan, persis adegan dinfilm horor. Sigit yang menyaksikan kejadian itu dari jarak dekat l, sontak langsung mematung. Istilahnya, dia tidak bisa "ber-word-word" lagi.
"Pintu darurat itu harus didorong ekstra keras kalau mau dibuka. Tapi dia masuk begitu saja, menembus tembok. Logika saya tidak menerima itu," ujar pria berusia 38 tahun tersebut.
Baca Juga
Melihat temannya bisa menembus pintu darurat, Sigit langsung bergegas tanpa berfikir panjang untuk mengambil baranganya yang tertinggal di ruangan. Namun, keanehan tak berhenti disitu, saat ia menggerakkan badannga, badanya justru terasa berat dan jari jemarinya basah hingga berkeringat. "Saya pun harus berkali-kali mengambil handphone yang terjatuh di lantai," tutur Sigit.
Ketika sudah memasukkan barangan ke dalam tas, Sigit bergegas menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Meski jarak liftnya sangat dekat, namun entah kenapa terasa jauh sekali langkahnya untuk mencapai lift tersebut. Sigit merasa lelah untuk mengangkat kakinya satu persatu, seolah ada yang menggengam kuat, Bulu kuduk pun berdiri tegak ketika tiba-tiba ia menyadari seolah ada sosok berbadan besar yang mengejarya.
Jantungnya yang semakin berdegup kencang, ia dilanda ketakutan. Akhirnya Sigit hanya bisa membacakan doa yang ia bisa, seperti bacaan surat yasin, bahkan sampai doa makan untuk menenangkan dirinya, hingga akhirnya ia berhasil masuk lift dan mencoba memencet pintu tutup tanpa harus melihat. Ia idak ingin melihat sosok yang berada di dalam ruangannya tadi.
Setetelah sampai bawah dan mengonfirmasi kepada tim keamanan (Pamdal), terungkap bahwa Ines yang asli sudah pulang sejak sore hari. Akan tetapi petugas heran melihat Sigit dengan wajah pucat dan berkeringat.
"Wajah lo kok pucat? Ada apa?" tanya petugas itu curiga, seperti ditirukan Sigit. Ia pun mengaku, dengan napas tersengal menceritakan kejadian sesungguhnya. Sigit menceritakan kepada petugas Pamdal bahwa ia baru saja berpapasan dengan Ines—atau setidaknya sosok yang sangat mirip dengan Ines."