Opini . 30/10/2025, 20:13 WIB

Sejarah yang Dipotret Melalui 7 Buku Puisi Esai DENNY JA

Penulis : Sahroni
Editor : Sahroni

Denny JA menulis dengan lirih dan reflektif:

“Kami bukan musuh,

hanya anak-anak yang tersesat di dalam sejarah.”

Puisi ini menegaskan pesan utama buku: di balik setiap kemenangan dan tragedi sejarah, ada seseorang yang berdoa sendirian agar makna ‘manusia’ tidak ikut lenyap.

-000-

Melalui tujuh buku puisi esai ini, Denny JA menulis sejarah bukan dengan pena sejarawan, melainkan dengan darah penyair.

Ia merekam luka bangsa dan dunia dengan kelembutan empati, menjadikan setiap bait sebagai monumen bagi jiwa-jiwa yang terlupakan.

Dari Atas Nama Cinta hingga Yang Menggigil dalam Arus Sejarah, kita melihat lintasan evolusi seorang penggagas:

dari cinta yang tertindas, menuju bangsa yang berjuang, hingga peradaban yang berdarah.

Di ujung semuanya, hanya satu pesan yang tersisa: kemanusiaan adalah bahasa paling universal dalam sejarah.

Puisi esai menjadikan sejarah bukan sekadar peringatan masa lalu, tetapi cermin bagi masa depan.

Ia menunjukkan bahwa bangsa hanya akan bertahan bila berani mengingat dengan hati, bukan dengan amarah.

Di tangan Denny JA, sejarah kembali bernapas,!bukan sebagai deretan tahun dan perang, melainkan sebagai kisah manusia yang terus menggigil mencari cahaya.*

Jakarta, 30 Oktober 2025

---

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id