Opini . 23/07/2025, 15:08 WIB

Hilirisasi: Saatnya Pertamina Ngebut, Bukan Santai Lagi!

Penulis : Mihardi
Editor : Mihardi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) nunjukkin, impor minyak mentah dan produk olahan selalu jadi beban berat di neraca perdagangan. Tahun 2023 aja, nilainya mencapai lebih dari USD 30 miliar. Ini angka gede sekali yang terus nguras devisa dan bikin Rupiah kita tertekan.

Proyek-proyek besar kayak RDMP (Refinery Development Master Plan) Balikpapan dan GRR (Grass Root Refinery) Tuban emang sering digembar-gemborkan. Tapi, kenyataannya jauh dari harapan. RDMP Balikpapan Tahap I yang targetnya selesai 2019, baru bisa jalan penuh bertahap di 2025. Kilang Tuban, yang targetnya selesai 2026, sampai pertengahan 2025 masih berkutat di urusan lahan dan studi kelayakan.

Penundaan ini bukan cuma soal proyek mandek, tapi hilangnya potensi miliaran dolar buat ekonomi nasional. Ini ibarat gak amanah sama potensi kekayaan alam dan kesempatan emas kemandirian ekonomi.

Kenapa Pertamina, perusahaan energi raksasa dengan sumber daya melimpah, masih ngebiarin Indonesia jadi "pengemis" BBM dan produk petrokimia di tengah laut minyak dan gasnya sendiri? Ini gak bisa diterima, dan ngerusak citra kedaulatan energi kita di mata dunia.

Alasan klasik kayak "susah cari investor" atau "masalah lahan" itu udah basi. Para Komisaris dan Direksi Pertamina harus tanggung jawab dan nunjukkin komitmen nyata yang berani.

Biar makin ngebut, ini solusinya:

a. Gas pol pembangunan dan revitalisasi kilang: Pertamina harus punya target super ambisius buat swasembada BBM dan petrokimia dalam waktu maksimal 5-7 tahun. Ini butuh percepatan proyek RDMP dan GRR dengan target peningkatan kapasitas kilang jadi minimal 2 juta BPH. Lupakan cara kerja yang birokratis.

b. Bikin Satuan Tugas Khusus Hilirisasi Pertamina: Dengan kewenangan luar biasa, Satgas Hilirisasi ini bisa motong birokrasi, ngebutin perizinan, dan ngasih insentif agresif.

c. Libatin BPI Danantara: Secara penuh dan agresif, Danantara harus dilibatin buat nyari skema pembiayaan paling inovatif.

d. Fokus ke produk bernilai tinggi dan bangun klaster industri petrokimia hilir: Hilirisasi gak boleh berhenti di BBM atau LPG doang. Pertamina harus serius masuk ke industri petrokimia dasar sampai produk hilir yang lebih kompleks, kayak plastik ramah lingkungan, specialty chemicals, komponen baterai kendaraan listrik, atau bahkan hidrogen biru/hijau.

e. Klaster Industri Hilir: Ciptain klaster industri hilir terintegrasi yang bisa narik investor, dan dorong UMKM tumbuh bareng.

f. Integrasi hulu-hilir yang kuat, efisien, berbasis kinerja, dan serba digital tanpa toleransi: Optimalin integrasi antara anak perusahaan di sektor hulu (PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan hilir (PT Kilang Pertamina Internasional dan PT Pertamina Patra Niaga).

g. Gunakan Teknologi Canggih: Manfaatin teknologi digital (IoT, AI, Big Data) buat efisiensi operasional. Gak ada lagi ego sektoral.

2. Ketahanan Energi Nasional: Dilema di Persimpangan Jalan Transisi Energi Global yang Mengancam

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id