Ragam . 13/08/2026, 11:40 WIB
fin.co.id - Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) berhasil meraih medali emas dalam ajang International Innovation, Invention and Creativity Exhibition (IIICe) 2026 di Malaysia melalui gagasan sistem agrivoltaik berbasis kecerdasan buatan. Tim yang diketuai, Mahasiswa S1 Teknik Elektro ITPLN, Andi Iftitah Baitul Qiswa dengan anggota Umar Wanto dari S1 Teknik Elektro, Tara Syauqina dan Cynthia Calista Paramitha dari S1 Bisnis Energi, serta Elma Erista Sinambela dari S1 Teknik Informatika itu menawarkan cara baru untuk mengoptimalkan produksi listrik tenaga surya tanpa mengorbankan kebutuhan cahaya tanaman.
"Gagasan inovasi ini menggabungkan pemanfaatan satu lahan untuk dua kebutuhan sekaligus, yakni menghasilkan energi listrik dari panel surya dan mendukung produktivitas pertanian," ujar salah satu anggota tim, Umar Wanto saat berbincang , Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurutnya, sistem tersebut akan dikembangkan dengan Application-Aware Adaptive Control Strategies yang mengatur pergerakan smart solar tracker, baik tipe single-axis maupun dual-axis, berdasarkan data cuaca secara real-time dan algoritma Machine Learning.
Gagasan itu berangkat dari persoalan yang kian terasa: perebutan lahan produktif antara kebutuhan energi dan pangan. Panel surya yang dipasang secara statis dapat menciptakan bayangan pada area pertanian sehingga mengurangi intensitas cahaya yang diterima tanaman. Dalam kondisi tersebut, ucapnya, pilihan antara membangun pembangkit listrik atau mempertahankan lahan pertanian seolah menjadi dilema.
Namun, kata Umar, Tim ITPLN dengan dosen pembimbing Hasna Satya Dini, ST., MT mencoba mengubah dilema itu menjadi peluang. Nantinya, melalui sistem kontrol adaptif, posisi panel dapat disesuaikan berdasarkan kondisi cuaca dan kebutuhan cahaya tanaman. Sistem tidak hanya mengejar posisi panel yang paling optimal untuk menangkap sinar matahari, tetapi juga memperhitungkan Photosynthetically Active Radiation (PAR), yakni rentang cahaya yang berperan penting dalam proses fotosintesis.
"Dengan pendekatan tersebut, panel surya dapat bermanuver secara dinamis. Ketika produksi energi perlu dimaksimalkan, sistem mengatur sudut panel untuk memperoleh paparan matahari optimal," katanya.
Namun, lanjut Umar, ketika tanaman membutuhkan lebih banyak cahaya, posisi panel dapat disesuaikan untuk memberikan ruang cahaya yang lebih memadai. Di sinilah kecerdasan buatan digunakan untuk membantu sistem mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang berubah.
“Yang kami coba selesaikan adalah dilema pemanfaatan lahan, apakah kita harus memilih listrik atau pangan. Kami berusaha menyelaraskan keduanya dengan mengatur sudut panel berdasarkan kebutuhan energi dan kebutuhan cahaya tanaman,” kata Umar Wanto.
Menurut Mahasiswa asal Kepulauan Natuna itu, gagasan tersebut tidak semata mengejar capaian teknologi. Tim juga ingin menjawab persoalan ketahanan energi dan pangan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim serta keterbatasan lahan produktif. Karena itu, riset mereka diarahkan untuk mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang tanpa kelaparan, SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim.
Keunggulan lain dari riset berjudul Adaptive Control Strategies for Optimizing Power Output of Agrivoltaic Systems Under Variable Weather Conditions itu terletak pada konsep dual-objective. Sistem tidak hanya mengejar keluaran listrik panel surya, tetapi sekaligus meregulasi intensitas cahaya yang diterima tanaman. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan Land Equivalent Ratio (LER), sehingga satu bidang lahan dapat memberikan manfaat untuk produksi energi sekaligus pertanian.
Di IIICe 2026 Malaysia, ungkapnya, riset tersebut harus bersaing dengan 139 peserta atau tim yang mengikuti kompetisi secara hybrid, baik daring maupun luring. Para finalis berasal dari berbagai perguruan tinggi dan institusi, termasuk Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), UIN Walisongo, President University, UPN Veteran Jakarta, Universiti Sultan Zainal Abidin, Universiti Teknologi MARA, hingga sejumlah institusi pendidikan lainnya.
Umar mengatakan keberhasilan meraih emas tidak lepas dari kerja sama tim, kebaruan riset, serta kemampuan menerjemahkan persoalan global menjadi solusi teknologi yang konkret. Landasan teori yang kuat dan relevansi inovasi terhadap kebutuhan energi serta pangan juga menjadi bagian penting dalam presentasi di hadapan dewan juri.
“Medali emas ini menjadi pengakuan atas kerja keras kami sekaligus motivasi besar bagi tim untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengembangkan riset lanjutan agar teknologi ini dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Bersaing dengan kampus-kampus besar dari dalam dan luar negeri, menurut Umar, menjadi pengalaman yang sekaligus menguji kepercayaan diri. Ajang internasional itu memberi kesempatan bagi tim ITPLN untuk mengukur kualitas gagasan sekaligus bertukar pengetahuan dengan peserta lain. Ia menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari ITPLN, memiliki ruang untuk membawa risetnya ke panggung internasional.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id