Bus Kurnia
YANG menaikkan harga BBM Sabtu lalu mungkin menyesal: mengapa tidak dulu-dulu. Enam bulan lalu, misalnya. Atau lebih awal lagi. Toh risiko sosialnya ternyata ku
Apa pun perubahan di dunia ini Kurnia akan tetap menjadi pengusaha bus. Gen di darahnya adalah gen angkutan bus. Bapaknyalah yang mendirikan SAN. Di Bengkulu. Ayah Kurnia orang Bengkulu. Keturunan Pariaman.
Sang ayah, saat muda, seorang sopir. Pegawai Pemda. Ia sopir pejabat pemerintah di Bengkulu.
Tapi ia orang Minang.
Ia pilih berhenti. Ia menyukai mesin mobil. Ia bisa memperbaiki kerusakan apa pun. Maka, daripada berhenti, ia dipindah ke bagian perbengkelen di Pemda. Zaman itu semua Pemda punya bengkel mobil sendiri.
Ia jadi kepala bengkel.
Statusnya tetap pegawai.
Ia orang Minang.
Ia berhenti.
Sang ayah bersatu dengan kakaknya. Mereka membeli bus kecil. Elf. Bus mereka terus bertambah. Berkembang lagi ke bus besar. Terus pula bertambah.
Lalu pecah kongsi.
Sang ayah mendirikan SAN.
Kurnia lahir.
Nakal.
Sekolahnya ogah-ogahan. Untung bisa tamat SMP.
Sejak SMP, Kurnia sudah lebih senang ''sekolah'' di bus. Ia ikut perjalanan jauh Bengkulu-Jakarta. Dan ke mana saja bus ayahnya berkelana. Syukurlah di Jakarta Kurnia sempat lulus STM.
Berita Terkait
ArtSubs Rambat
Palung Langit