Makmun Rasyid: Institusi TNI dan Polri Jadi Obyek Infiltrasi HTI

fin.co.id - 10/03/2022, 21:26 WIB

Makmun Rasyid: Institusi TNI dan Polri Jadi Obyek Infiltrasi HTI

Pada tahun 2017 organisasi HTI secara resmi dibubarkan oleh pemerintah

"Jika ada yang mengganggu, biasanya petinggi HTI melakukan upaya diplomasi kepada pihak keamanan yang sudah terkena virus Khilafah tersebut," tukasnya.

Yang Kedua, tahapan pertama dijadikan modal dalam proses pengambilalihan kekuasaan. Strategi mengantarkan HTI ke tampuk pemerintahan dalam upaya mengubah ideologi negara menjadi Islam berhasil. 

"Tahap ketiga apabila itu sudah didapatkan, maka dilakukan pembentukan opini atau narasi secara masif di semua media offline maupun online," urainya.

(BACA JUGA:Sindir Ustaz Khalid sebagai Wahabi, BNPT: Apa Perlu Wayang Dibuat Pakai Jenggot dan Jidat Hitam? )

Makmun Rasyid melihat infiltrasi yang bisa dilakukan HTI saat ini baru sampai tahap kedua. 

Seperti yang dilakukan Badan Wakaf Al-Qur'an milik tokoh HTI. Selain cara tersebut, mereka masuk dengan ajakan untuk mengadakan berbagai kajian murakkazah dalam halaqah-halaqah, dan tatsqîf jama’i. 

"Intinya fokus kepada umat agar masyarakat melakukan pembentukan opini kepada pemerintah dengan menonjolkan ragam keburukannya," lanjut Makmun Rasyid.

(BACA JUGA:Eko Kuntadhi Sebut Arab Saudi Tinggalkan Wahabi Agar Tak Bodoh: Kita Malah Ikut Kebodohan Mereka!)

Pada aspek ini mereka melakukan kajian dan halaqah serta menguasai masjid-masjid di lingkungan TNI/Polri. Ciri ini, lanjutnya, memiliki kesamaan dengan infiltrasi yang dilakukan Salafi-Wahabi. 

Makmun Rasyid mencontohkan seperti yang pernah terjadi di Masjid Al-Badar Pussenif TNI Kodiklatad, Bandung, Jawa Barat pada 2021 lalu. Mereka melakukan rekrutmen imam shalat tetap. Kriteria yang ditetapkan salah satunya harus bermanhaj salaf dan bersifat diutamakan. 

"Artinya, pendaftar di luar kelompok mereka, secara otomatis tidak akan lolos. Apalagi yang berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Bagi kelompok Salafi, utamanya NU dianggap bagian dari kelompok yang sesat. Karena memelihara tradisi seperti Maulid dan Tahlilan. Tradisi ini dianggap mereka sebagai perbuatan bid'ah yang bisa mengantarkan ke neraka," jelas Makmun.

(BACA JUGA:3 Ustaz Sebut Bumi Itu Datar, Eko Kuntadhi Ungkit Wahabi: Waktu Pelajaran Geografi, Terkunci di WC!)


Rekrutmen imam salat tetap Masjid Al-Badar Pussenif TNI Bandung-screenshoot pemuda NU-Facebook

Siapa yang masuk ke Masjid Al-Badar Pussenif TNI di Bandung tersebut? "Mereka yang terafiliasi dengan Salafi-Wahabi. Atau bagian dari gabungan varian antara Salafi Hijazi dan Salafi Haraki. Gerbong ini memang ditugaskan untuk melakukan infiltrasi ke pihak aparat keamanan melalui ragam pintu," tuturnya.

Makmun Rasyid menyebut varian yang belakangan masuk ke TNI terbagi dua. Yaitu varian Salafi Hijazi (berdakwah dengan fokus membangun tatanan keimanan perspektif Muhammad bin Abdul Wahab yang anti-Tasawuf, anti-Maulid, anti-Budaya dan sejenisnya, Red). Satunya lagi varian Salafi Haraki (yang menjadi penghubung ke partai politik, Red)

Admin
Admin
Penulis

Penulis FIN.CO.ID