Liverpool Anti Klimaks

Liverpool Anti Klimaks

LIVERPOOL - Liverpool hanya membutuhkan dua kemenangan lagi untuk bisa memastikan trofi Premier League, kembali ke Anfield. Hanya saja, dengan perkembangan virus corona tidak ada alternatif yang bisa diambil pihak penyelenggara untuk memainkan sekitar sembilan laga tersisa. Alhasil, munculah usulan untuk menobatkan Liverpool sebagai juara baru Premier League, sebagaimana diungkap salah satu anggota eksekutif klub di Inggris baru-baru ini. Menurut sosok yang identitasnya dirahasiakan tersebut, wacana ini sebenarnya tidak mendapatkan penolakan dari mayoritas klub yang ada. Tetapi, ada pula yang berkeberatan dengan hal tersebut. Liverpool diisukan bakal dinobatkan sebagai juara Premier League musim kompetisi 2019-2020, meski Liga Inggris masih menyisahkan beberapa laga untuk dimainkan. Menurut pengamat sepak bola Inggris, Alan Smith, hal justru akan berdampak negatif terhadap calon juara baru, yang telah menanti 30 tahun lamanya, untuk kembali mengangkat trofi tersebut. Jika melihat kondisi yang berkembang saat ini, Allan berpendapat amat disayangkan jika gelar itu didapat lantaran ada situasi luar biasa.  “Kapankah kompetisi ini pada akhirnya selesai? Bagaimana otoritas sepak bola setempat mengatasi situasi yang tak pernah terduga sebelumnya. Namun jika Liverpool pada akhirnya dinobatkan sebagai juara, akan membuktikan bahwa akhir dari kompetisi ini sebagai anti-klimaks besar-besaran,” kata Alan Smith seperti dikutip Standard, Sabtu (14/3). Kendati demikian, eks penyerang Leicester City itu mengakui, bahwa apa yang ditunjukan Liverpool dibawah arahan Jurgen Klopp dalam beberapa musim belakangan ini, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Mulai dari faktor manajemen klub, proses rekrutmen, serta kemampuan sekaligus sikap mereka sebagai tim. Sayangnya, kemenangan Mohammed Salah dkk, di musim kompetisi kali ini, sedikit tercoreng oleh intervensi wabah virus corona, yang memaksa kompetisi berakhir secara prematur, ketimbang berakhir sebagaimana seharusnya. Secara hitung-hitungan, jika kompetisi ini memang harus dihentikan secara paksa, sebenarnya, posisi Liverpool memang berada pada posisi puncak. Yakni unggul 25 poin dari pesaing terdekatnya, Manchester City, dan 29 poin di atas Leicester City yang nangkring di posisi tiga besar. Tanpa harus memainkan 38 laga yang seharusnya mereka jalankan dalam satu musimnya, tidak aneh apabila gelar tersebut pada akhirnya harus jatuh secara otomatis kepada klub, dengan poin tertinggi itu. Hanya saja, bagi beberapa klub yang terdampar di zona degradasi, Bournemouth, Aston Villa dan Norwich City, kabar ini tentunya tak ubahnya sebuah pukulan telak. Sebab, mereka akan terlempar dari Premier League.(ruf/fin/rh)

Sumber: