Periode Januari Hingga September 2022, Kasus DBD di Kabupaten Tangerang Tembus Lebih Dari 1.000 Kejadian

Periode Januari Hingga September 2022, Kasus DBD di Kabupaten Tangerang Tembus Lebih Dari 1.000 Kejadian

Ilustrasi, Penyakit demam berdarah atau biasa disebut DBD disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. (Ist)--

TANGERANG, FIN.CO.ID -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sejak Januari sampai September 2022 kasus demam berdarah (DBD) di daerah itu mencapai 1.035 kasus. 

Jumlah tersebut naik drastis dibanding tahun 2021 lalu sebanyak 1.035 kasus. 

BACA JUGA:Telan Anggaran Rp 108 Triliun, PUPR Targetkan Penanganan Kawasan Kumuh 10 Ribu Hektar Hingga 2024

BACA JUGA:Fadli Zon Sebut Aparat Tak Profesional, Buntut Video Diduga TNI Pakai Tendangan Kungfu Bubarkan Suporter Viral

"Jumlah kasus Januari sampai dengan 27 september 2022 yaitu sebanyak 1035 kasus. Tahun 2021 kasus 671 sedangkan tahun 2022. Ada peningkatan kasus," kata Sumihar Sihaloho selaku kabid P2P Dinkes Kabupaten Tangerang kepada FIN, Senin 3 Oktober 2022.

Sementara, rata-rata usia yang terkena penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut berkisar antara 15 - 44 tahun. 

Dinkes pun terus melakukan upaya penanganan kasus DBD tersebut yakni dengan pemantauan per kasus DBD yg sudah terlaporkan dengan kegiatan penyelidikan epidemiologi ke rumah pasien dan pemeriksaan jentik nyamuk. 

Pemeriksaan jentik nyamuk ke lingkungan rumah pasien itu dilakukan ke 25 rumah yang berdekatan dengan rumah pasien. 

BACA JUGA:Camat Tigaraksa Imbau Warga yang Punya Anjing Peliharaan Diurus Baik-baik

BACA JUGA:Bupati Zaki Pimpin Doa Bersama ASN Tangerang Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

"Mulai dari rumah depan belakang kiri dan kanan dari rumah pasien dalam jarak 100 meter," terangnya

Dinkes juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang kewaspadaan DBD serta pemberian lavarsida bagi daerah yang ada tampungan atau genangan air. 

Selain itu, sambung Sumihar, pihaknya juga fokus melakukan fogging setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi untuk daerah dengan hasil PE positif. 

"Kita lakukan jug monitoring dan bimbingan ke puskesmas-puskesmas untuk pembinaan dan penguatan kemampuan petugas puskesmas dalam tatalaksana kasus DBD di wilayah masing masing," paparnya

Sumber: