Aliran Modal Asing Masuk ke Pasar Keuangan RI Sepekan Terakhir Capai Rp7,74 Triliun

Aliran Modal Asing Masuk ke Pasar Keuangan RI Sepekan Terakhir Capai Rp7,74 Triliun

Bank Indonesia--

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Bank Indonesia (BI) melaporkan, terdapat aliran modal asing masuk sebesar Rp7,74 triliun ke pasar keuangan Indonesia selama periode 8-11 Agustus 2022, baik ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun pasar saham.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Minggu 14 Agustus 2022, menyampaikan aliran dana asing masuk terbesar terjadi di pasar SBN pada periode tersebut yakni senilai Rp4,29 triliun. 

(BACA JUGA:Nilai Transaksi Harian BEI Sepekan Terakhir Turun Lebih Dari 9 Persen)

(BACA JUGA:BTN Gelar 'KPR BTN Merdeka' Dalam Ajang Pameran IPEX 2022 )

Adapun terdapat pula aliran modal asing masuk di pasar saham sebesar Rp3,44 triliun.

Secara keseluruhan, sejak Januari hingga 11 Agustus 2022 terdapat modal asing masuk bersih di pasar saham sebanyak Rp58,2 triliun, namun tercatat modal asing keluar bersih senilai Rp126,1 triliun.

Dengan derasnya aliran modal asing yang masuk, BI mencatat nilai tukar rupiah berhasil dibuka menguat sebesar 35 poin pada pagi hari ini menjadi Rp14.730 per dolar AS, dari yang sebelumnya ditutup pada level Rp14.765 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis 11 Agustus 2022.

Berbanding terbalik dengan kurs Garuda, indeks dolar AS justru tercatat melemah ke level 105,09.

(BACA JUGA:Empat Perwira di Polda Metro Jaya Ditahan Terkait Kasus Sambo, Said Didu Beri Pertanyaan Mengejutkan )

(BACA JUGA:Mahfud MD Ungkap Upaya Pengkondisian Dalam Kasus Brigadir J, Sambo Bikin Jebakan Psikologis Agar Orang Percaya)

Sementara itu imbal hasil atau yield SBN Indonesia tenor 10 tahun menurun dari 6,98 persen menjadi 6,91 persen. Dengan demikian, jarak yield SBN RI tersebut masih cukup jauh dari yield obligasi AS tenor 10 tahun yang naik ke level 2,888 persen.

Erwin menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.

Sumber: