Isi Dompet

fin.co.id - 18/07/2026, 05:19 WIB

Isi Dompet

Bandara Vladivostok--

Tidak masalah. Saya bisa tidur seadanya di bandara. Toh saya sudah bukan siapa-siapa lagi. Sebenarnya Jannet menawarkan tidur di rumahnyi di Beijing tapi waktu akan habis di jalan.

Persoalan besar muncul: saya tidak punya rubel. Padahal berbagai macam kartu bank tidak berlaku di sana. Pun uang digital.

Sistem digital perbankan internasional diputus –tidak bisa dipakai di Rusia. Berarti saya harus bayar apa pun di sana pakai uang kontan. Dompet saya sudah tipis –hanya diisi kartu-kartu.

Saya harus cari utangan. Renminbi. Untuk ditukar rubel di bandara Beijing.

Betapa banyak rubel yang harus saya bawa. Setidaknya harus cukup untuk membayar hotel yang tidak murah. Bayar hotel harus dengan uang cash. Seperti balik ke zaman batu.

Hotelnya sendiri tidak mengharuskan pakai uang cash. Bisa pakai kartu. Tapi kartu Rusia. Rupanya Rusia sudah punya sistem pembayaran digitalnya sendiri. Isolasi Barat memang menyusahkan saya, tapi tidak sampai menyusahkan warga negara di sana.

Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto. Saya ikut dalam rombongan presiden berkunjung ke Moskow dan St Petersburg. Lalu ke Tashkent di Uzbekistan –waktu itu masih bagian Uni Soviet. Dari Tashkent ke Bukhara di Samarkand --ke makam perawi hadis ulama besar Imam Bukhari.

Saat bermalam di Tashkent, kamar hotel saya diketuk tiga kali. Ketika saya buka pintu dua orang berjubah muslim memaksa masuk sambil memberi isyarat agar saya jangan bicara.

Pintu ditutup. Dikunci. Mereka mengajak bicara baik-baik. Mereka bilang bahwa saya pasti memerlukan rubel. Mereka menawarkan agar saya menukar dolar dengan rubel yang mereka bawa. Mereka bilang saya bisa membeli rubel jauh lebih murah dibanding di tempat penukaran resmi.

"Ini untuk biaya perjuangan kami di Afghanistan," kata mereka setengah berbisik.

Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika @100. Mereka memberi saya rubel satu kantong plastik. Saya tidak hitung berapa nilainya. Yang penting mereka cepat keluar kamar.

Waktu itu sistem komunis di Uni Soviet dalam proses keruntuhannya. Saya sempat ke toko-toko di Moskow tapi tidak ada barang. Toko-toko nyaris kosong. Toko baju hanya memajang satu dua baju. Saya pun tidak beli apa-apa. Tidak ada yang bisa dibeli.

Sebagai anggota rombongan presiden saya juga tidak bisa ke mana-mana. Jadwal amat padat. Sampai hari terakhir akan meninggalkan Uni Soviet, rubel itu utuh. Saya tinggalkan di kamar. Saya takut membawa pulang –menjaga kehormatan rombongan. Toh di Indonesia tidak laku. Rubel Soviet saat itu ibarat sampah.

Rubel yang sekarang adalah rubel Russia. Beda. Sudah bernilai tapi tidak laku di banyak negara.

Pukul 06.00 saya mendarat di Vladivostok: kali pertama. Pikiran pun mengarah ke petualangan baru: naik kereta Trans Siberia. Itulah jalur kereta api terpanjang di dunia.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca