fin.co.id - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan mulai memperkuat dukungan militernya kepada Israel di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Washington disebut telah memberi tahu Tel Aviv mengenai rencana pengerahan puluhan pesawat pengisian bahan bakar di udara sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Laporan Axios, Jumat 17 Juli 2026, yang mengutip tiga pejabat AS dan Israel menyebut langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kesiapan Washington menghadapi potensi operasi militer yang lebih luas terhadap Teheran.
Sebelumnya, The Wall Street Journal pada Rabu melaporkan Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran. Opsi yang dibahas disebut mencakup kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg.
Menurut laporan Axios, saat ini sekitar 60 pesawat tanker militer AS telah berada di Israel. Sebanyak 30 pesawat ditempatkan di Bandar Udara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv, sedangkan 30 lainnya berada di Bandar Udara Ramon di wilayah selatan Israel.
Washington juga dilaporkan meminta Israel menerima tambahan pesawat tanker. Meski demikian, keputusan akhir mengenai penempatan tersebut berada di tangan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu.
Di sisi lain, Kepala Otoritas Perhubungan Israel Miri Regev dikabarkan mengusulkan agar jumlah pesawat tanker AS di Bandar Udara Ben Gurion dikurangi. Namun, usulan itu ditolak oleh Otoritas Pertahanan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
Militer AS disebut lebih memilih menggunakan Bandar Udara Ben Gurion karena dinilai lebih aman dibandingkan pangkalan udara lainnya untuk mendukung operasional pesawat mereka. Keputusan itu memicu perdebatan di Israel lantaran pesawat-pesawat militer AS kini menguasai sebagian besar area bandara.
Axios juga melaporkan bahwa kedatangan tambahan pesawat tanker berpotensi menyebabkan pembatalan massal penerbangan sipil, terutama pada puncak musim liburan.
Sementara itu, hubungan AS dan Iran kembali memanas meski kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni yang mengatur penghentian konflik yang dimulai sejak 28 Februari.
Baca Juga
Namun, sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS menghentikan campur tangan di kawasan setelah kembali terjadi aksi saling serang antara kedua negara.
Sehari berselang, Presiden Donald Trump menyatakan AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz. Ia juga menegaskan Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. *