Oleh: Dahlan Iskan
Selamat untuk Shahbaz Sharif, perdana menteri Pakistan: ia berhasil menjadi penengah antara Amerika Serikat dan Iran. Luar biasa hebat. Dua negara itu sepakat mengakhiri perang. Jumat lusa kesepakatan itu ditandatangani di Swiss.
"Israel tidak punya pilihan lain," komentar Presiden Donald Trump soal sikap pemimpin negara Yahudi, Benyamin Netanyahu.
Benyamin sendiri belum berkomentar. Diam. Tapi orang-orang dekatnya merasa tidak puas. Utamanya soal jaminan Iran tidak akan memproduksi senjata nuklir.
Israel tidak hanya khawatir soal senjata nuklir. Israel mulai mempersoalkan juga kemampuan Iran dalam memproduksi rudal jarak jauh.
Iran sendiri kelihatannya tidak keberatan menghentikan program senjata nuklir. Toh punya kemampuan lain yang tidak kalah ampuh: bisa menyerang Israel lewat rudal balistiknya. Dan itu sudah dibuktikan untuk membalas serangan Amerika-Israel akhir Desember lalu.
Bagaimana dengan tuntutan Iran agar Amerika membayar kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan AS dan Israel?
Kelihatannya ada jalan tengah: Amerika tidak perlu membayar tapi Iran bisa dapat uang besar. Uang itu sebenarnya milik Iran sendiri. Yakni uang hasil ekspor minyak mentah yang dibekukan di negara Barat. Jumlah keseluruhannya mencapai USD100 miliar, sekitar Rp 1.600 triliun. Namun cairnya bertahap. Gelombang pertama 25 persennya: sekitar USD25 miliar.
Yang Trump merasa menang adalah: Iran sepakat selat Hormuz dibuka blak. Seperti sedia kala. Pasok minyak mentah ke seluruh dunia akan kembali lancar.
Belum lagi kesepakatan itu ditandatangani pun harga minyak mentah sudah turun: jenis Brent tinggal USD83. Jenis West Texas tinggal USD80.
Baca Juga
Ini juga kabar baik bagi Presiden Prabowo dan bagi Anda: siapa tahu harga Pertamax segera turun kembali.
Yang Iran merasa menang: sanksi minyaknya dilonggarkan. Dengan demikian Iran bisa segera cari tambahan uang dari meningkatnya ekspor minyak.
Berarti pokok-pokok perdamaian Trump tahun 2026 ini sebenarnya sama dengan kesepakatan yang telah ditandatangani tahun 2015 lalu. Hanya saja yang tanda tangan waktu itu Presiden Barack Obama –orang yang paling Trump benci sampai ke ubun-ubunnya.
Begitu terpilih Trump langsung batalkan perjanjian itu. Sampailah terjadi perang di Iran dan sekitarnya. Yang korbannya begitu banyak --melanda dunia, sampai pun ke pribadi Anda. Kalau ujung-ujungnya disepakati hal yang sama, lalu apalah arti keguncangan berat untuk seluruh umat manusia itu.
Berita damai ini membuat harga emas langsung naik lagi: tiga persen sepanjang hari Senin kemarin. Pun harga-harga saham. Kenaikan tertinggi dinikmati perusahaan Elon Musk: SpaceX. Naik lebih 20 persen. Ini semakin meneguhkan gelar Elon Musk sebagai orang pertama di jagad raya yang kekayaannya melewati satu triliun dolar.