Kelalaian yang Sistemik
Masalahnya bukan semata geopolitik global. Itu hanya pemicu.
Akar persoalannya ada pada kebijakan dalam negeri yang setengah hati.
Kilang tak kunjung selesai. Cadangan strategis tak diprioritaskan. Energi terbarukan berjalan lambat. Biofuel dan biomassa—yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa agraris—diposisikan sekadar pelengkap.
Lebih jauh, kementerian teknis justru terlihat reaktif, bukan preventif. Setiap ada gejolak harga, yang disiapkan adalah skema subsidi darurat, bukan reformasi struktural.
Padahal mandatnya jelas: menjaga ketahanan energi nasional.
Jika cadangan hanya cukup 20 hari, maka itu bukan kesalahan pasar global. Itu kegagalan tata kelola.
Dan kegagalan tata kelola selalu punya penanggung jawab.
Negara yang Kehilangan Kontrol
Energi adalah soal kedaulatan. Negara yang tidak menguasai energinya sendiri akan selalu tunduk pada fluktuasi harga dunia.
Ketika harga minyak naik, APBN tertekan.
Ketika impor tersendat, distribusi panik.
Baca Juga
Ketika rupiah melemah, subsidi membengkak.
Kita seperti penumpang di kapal orang lain.
Sementara pemerintah masih sibuk merayakan jargon ketahanan energi, fakta di lapangan menunjukkan yang sebaliknya: ketergantungan akut.