Ruang Cerita . 28/02/2026, 10:00 WIB

Curug Ciparay, Surga Sunyi di Kaki Gunung Karacak

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Di balik rimbunnya perbukitan Kabupaten Tasikmalaya, tersimpan sebuah surga kecil yang tak banyak disentuh keramaian. Namanya Curug Ciparay—sebagian orang menyebutnya Curug Kembar. Ia berdiri sunyi di kaki Gunung Karacak, memeluk hutan dan kabut, seolah menjaga rahasia yang hanya bisa dipahami mereka yang datang dengan hati terbuka.

Oleh: Afdal Namakule - Tasikmalaya

Selasa 17 Februari 2026, gerimis menggantung di cakrawala. Langit Tasikmalaya kelabu, tak memberi kepastian apakah hujan akan benar-benar turun atau mentari justru diam-diam menembus awan.

Saya menyalakan sepeda motor tua milik mertua. Membiarkan derunya memecah sunyi pagi. Jalanan berliku, kabut tipis, hutan yang memayungi aspal, perkampungan yang masih menguapkan aroma kayu bakar, hingga hamparan sawah yang menghijau. Semuanya menjadi pengantar perjalanan menuju Curug Ciparay.

Dari Singaparna- ibu kota kabupaten Tasikmalaya- perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Jalan yang kini beraspal terasa jauh berbeda dibanding lima tahun silam, ketika akses menuju curug masih berupa jalur kasar dan berbatu. Kini roda melaju lebih ringan, namun rasa penasaran tetap sama: apakah pesona curug itu masih seutuh dulu?

Curug Ciparay berada di Dusun Parentas, Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang. Letaknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya, dan 20 Km dari Singaparna.

Curug ini terletak tepat di kaki Gunung Dinding Ari yang berdiri berdampingan dengan Karacak. Kawasan ini menjadi ruang pelarian bagi pencinta alam, mereka yang mencari ketenangan tanpa perlu mendaki terlalu jauh.

Sesampainya di area parkir, pandangan langsung disergap panorama hijau yang luas. Gunung Karacak menjulang kokoh, hutan lebat membentang seperti karpet alami yang tak berujung. Udara pegunungan pun menyapa dengan dingin yang lembut. 

Untuk parkir kendaraan, pengunjung dikenakan biaya Rp5.000. Sementara untuk turun ke lokasi curug, ada tiket masuk Rp8.000. Angka yang berbeda dibanding lima tahun lalu, ketika cukup membayar parkir untuk menikmati semuanya.

Dari parkiran, perjalanan belum selesai. Jalan menurun sejauh kurang lebih 100 meter harus dilalui dengan langkah hati-hati. Pepohonan rimbun menaungi jalur setapak. Tanah dan batu menjadi pijakan, sementara udara terasa semakin lembap.

Curug Ciparay, Air Terjun Kembar di Hutan Perawan

Pengunjung berpose di Curug Ciparay

Lalu, dari kejauhan, terdengar gemuruh. Suara air jatuh dari ketinggian berpadu dengan desir angin pegunungan, seperti sebuah orkestrasi alam yang tak bisa ditiru pengeras suara mana pun. Dan di sanalah ia berdiri. Curug kembar Ciparay. 

Sesuai julukannya, Curug Ciparay memperlihatkan dua aliran air terjun yang mengalir berdampingan dari dinding batu besar. Satu menjulang sekitar 55 meter, satunya lagi lebih tinggi, sekitar 75 meter. 

Airnya jatuh deras, putih membelah tebing gelap, menciptakan panorama dramatis yang membuat siapa pun terdiam beberapa detik lebih lama. Kata sebagian orang, curug ini tak pernah kering meskipun musim kemarau. 

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id