Di PENS yang lalu, saya juga memperkirakan Jepang masih menimbang-nimbang: kalau pun akhirnya memilih baterai, tapi baterai yang seperti apa.
Anda pun sudah tahu, para peneliti sangat gigih bersaing. Antara peneliti lithium dan solid state. Mana yang akan unggul.
Untuk sementara lithium unggul. Pemakaian lithium meluas nyaris memonopoli. Tapi para peneliti solid state tidak mau menyerah. Memang mereka kalah di start, tapi akan unggul di finis.
Dan Toyota akhirnya mengumumkan pilihannya: pakai baterai solid state. Tidak pakai bahan likuid, tidak pakai lithium dan tidak pakai nikel.
Tidak akan ada ancaman kebakaran. Secara fisik pun lebih ringan. Lebih kecil. Kapasitasnya lebih besar. Toyota akan langsung masuk pasar dengan jaminan satu kali charging bisa untuk 1000 km. Bisa untuk Jakarta-Surabaya.
Kalau pun harus charging di tengah jalan tidak merepotkan. Cukup 10 menit atau kurang.
Itulah keunggulan solid state.
Jepang, Toyota, memilihnya tidak hanya karena itu. Jepang tidak mau tergantung pada ketersediaan bahan baku. Dengan memilih solid state Jepang tidak bisa didikte Tiongkok.
Bahan baku lithium dikuasai oleh Tiongkok. Memang ada negara lain yang juga memproduksinya. Sangat besar. Yakni Kongo di Afrika. Tapi pemilik tambangnya Tiongkok juga.
Koji Sato, CEO Toyota, akhirnya membuat pernyataan ini: "Dunia berubah dengan cepat dalam hal mobil listrik. Saya pikir Toyota harus bisa menemukan solusi di bidang itu. Kita akan dorong ke masa depan dengan cepat".
Yang dimaksud cepat itu: tahun 2027. Empat tahun lagi. Tahun itu, mobil listrik Toyota dengan baterai solid state bisa Anda beli. Lebih murah. Mestinya. (*)