Dokter yang Sibuk Hadapi Ratusan Pasien Corona yang Terengah-engah di RS Giovanni Italia

Dokter yang Sibuk Hadapi Ratusan Pasien Corona yang Terengah-engah di RS Giovanni Italia

MILAN- Pasien terbaring di bangsal-bangsal rumah sakit. Mereka dalam kesusahan terengah-engah seperti mencari napas sambil memegang dada mereka. Wajah dan kepala mereka dibungkus dengan semacam gelembung pelastik. Tenaga medis memakai pakaian anti virus lengkap sarung tangannya, mereka begitu sibuk memasang monitor, infus dan respirator kepada pasien. Begitulah pemandangan Rumah sakit Papa Giovanni XXII, salah satu rumah sakit paling maju di Eropa, namun rumah sakit megah nun berkilau itu, bertekuk lutut hadapi pasien Covid-19. Papa Giovanni XXII terletak di Kota Bergamo, kota yang terparah diserang wabah Covid-19. Kesibukan dan kepanikan perawat di RS Papa Giovanni, terlihat seperti di ruang ICU. Tetapi bukan, itu hanya bangsal-bangsal yang disediakan di ruang-ruang rumah sakit yang dipakai untuk menampung para pasien yang baru datang. Pasien nampak lebih buruk, seperti tidak mempunyai harapan untuk hidup. Banyaknya orang di Italia menyerah menghadapi serangan coronavirus. Sejumlah rumah sakit di Italia, dipadati oleh pasien. Para staf medis bekerja keras untuk menjaga pasien mereka agar tidak semakin memburuk. Mereka berusaha menjaga mereka agar tidak mati. [caption id="attachment_445068" align="alignnone" width="700"] Foto: Pasein Covid-19 yang sekarat dibungkus tabung pelastik. (FOTO Sky News)[/caption] Di tempat lain di dunia, mungkin pasien yang mendapat perhatian untuk dirawat benar-benar karena sudah sakit parah. Tetapi di sana tidak, tenaga medis akan memprioritaskan mereka yang benar-benar di hujung kematian. Melalui gelembung plastik yang pas di kepala pasien yang sekarat, staf medis berjuang untuk berkomunikasi dengan mereka. Yang lemah hampir tidak bisa berbicara, hanya terdengar di bangsal bunyi detak jantung yang konstan dan pompa pernapasan. Staf medis tidak bisa mengetahui apa yang pasien katakan. Kepanikan dan kesibukan tersebut seperti Kota Wuhan- Cina- pada awal-awal diserang wabah [caption id="attachment_445073" align="alignnone" width="700"] Kesibukam Perawat menghadapai Pasien Covid-19 yang terus berdatangan mengisi Bangsal-bangsal Rumah Sakit (Foto: Sky News)[/caption] Tidak ada yang mengharapkan fenomena itu. Bahkan tidak ada yang membayangkan pasien datang terus-menerus begitu cepat. Kepala perawatan darurat, Dr Roberto Cosentini, mengatakan mereka belum pernah melihat kengerian seperti itu sebelumnya. "Ini adalah pneumonia yang sangat parah, dan itu adalah tekanan besar untuk setiap sistem kesehatan, karena kami melihat setiap hari 50 hingga 60 pasien yang datang ke unit gawat darurat kami dengan pneumonia, dan kebanyakan dari mereka sangat parah sehingga mereka membutuhkan volume oksigen yang sangat tinggi," ujar Dr Roberto dikutip News Sky. "Jadi kami harus menata kembali ruang gawat darurat kami dan rumah sakit kami ke tiga tingkat perawatan intensif." Sambungnya. Sementara itu, di luar rumah sakit, mobil-mobil militer dikerahkan untuk mengangkut ratusan mayat. Mereka diangkut keluar dari Kota Bergamo untuk kemudian dikubur atau dibakar di beberapa daerah. Lewat foto-foto yang beredar, sejumlah mayat di dalam peti mati diangkut mobil-mobil militer pada malam harinya. Jenazah dibawa ke tempat pembakaran mayat di Kota Modena, Acqui Terme, Domodossola, Parma, Piacenza dan beberapa kota lainnya. Setelah mayat dibakar, abunya akan dibawa kembali ke Bergamo. Di tempat lain, ratusan peti mati berbaris di gereja-gereja. Sejumlah mayat orang-orang yang meninggal di rumah, terpaksa disimpan di ruang tertutup selama berhari-hari karena layanan pemakaman yang begitu sibuk. Mayat-mayat dikubur atau dibakar tanpa adanya upacara. Secara keseluruhan, Italia kini punya total kematian akibat corona atau covid-19 ini melebihi Cina. Tercatat, pada Jumat (20/3), angka kematian di Italia mencapai 3,405 orang. Sementara yang terinfeksi 41,035 pasien. Dalam sehari, Italia terdapat 400 lebih kasus baru covid-19. Walikota Bergamo, Giorgio Gori, mengatakan jumlah kematian sebenarnya apabila diidentifikasi bisa lebih tinggi karena banyak orang dengan gejala COVID-19 telah meninggal sebelum diuji. "Dalam momen tragis, kolaborasi dan kedekatanmu terpuji," tulis Gori di akun tewitternya. Italia memperkirakan puncak wabah pada bulan April. Negara utu kini telah terkunci total sejak 9 Maret, namun para ahli mengatakan puncak penyebaran di Italia mungkin bukan pada April namun lebih dari itu. (dal/fin).

Sumber: