Pernah Dukung HTI dan Ikut Reuni 212, Ferdinand: Ternyata Saya Ditipu Kaum Khilafah

Pernah Dukung HTI dan Ikut Reuni 212, Ferdinand: Ternyata Saya Ditipu Kaum Khilafah

JAKARTA- Mantan kader Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean merespon video lawas dirinya ikut serta dalam aksi reuni 212 pada 2019 lalu. Foto serta video yang tersebar, Ferdinand Hutahaean terlihat mengenakan peci hitam dan ikat kepala bertuliskan kalimat tauhid. Tidak hanya itu, Ferdinand juga berkomentar dan mendukung perjuangan HTI. Video 36 detik itu, Ferdinand tidak setuju HTI dibubarkan. Dia menilai, pemerintah Jokowi melakukan pembubaran kepada HTI secara paksa tanpa proses hukum yang benar. Ferdinand menjelaskan momen tersebut. Dia mengatakan, dirinya saat itu ditipu oleh mereka yang mengusung khilafah. "Puji Tuhan saya cepat belajar ternyata saya ditipu oleh kaum khilafah dan saya senang jadi tau siapa mereka, musuh bangsa yang harus dimusnahkan," kata Ferdinand lewat keterangan tertulisnya melalui akun Twitter-nya, Kamis (2/12/2021) malam. Dia menceritakan, saat itu dirinya ikut dalam reuni 212 di Monas, Jakarta. Dia diantar ke tenda VIP dan duduk berdekatan dengan Amin Rais. Dia kemudian diberi peci dan ikat kepala bertuliskan kalimat tauhid. "Seseorang dari belakang saya mengenakan ke kepala saya peci hitam dan diikatkan tali kepala bertuliskan tulisan Arab yang saya tidak tau artinya. Saya biasa saja karen merasa itu kampanye untuk Prabowo," ucap Ferdinand. Ferdinand mengatakan, saat itu dia hadir sebagai juru bicara Prabowo Subianto dari Partai Demokrat. "Saat turun dari panggung saya ditanya media terkait khilafah dan reuni. Saya jawab tentu dengan kalimat yang baik demi tujuan kampanye," kata Ferdinand. "Tentang reuni saya jawab bahwa ini sesuatu yang baik dan besar karena kacamata saya kalau adalah kaca mata politik kampanye. Dan terkait khilafah saya jawab, saya tidak paham dan supaya diperbanyak diskusi agar orang jadi paham tentang khilafah," sambung Ferdinand. Ferdinand mengatakan, setelah dirinya belajar tentang apa itu khilafah, membuatnya cukup kaget. "Saya cari artikel dan itu cukup mengagetkan saya, membuat saya tidak nyaman dan merasa bersalah meski ujungnya saya senang jadi belajar dan jadi tau siapa mereka," katanya. "Setelah Pilpres saya memutuskan keluar dari 02 dan harus berdiri bersama Negara. Ternyata mereka adalah musuh bangsa yang harus dilawan dan dimusnahkan karena tujuannya tidak baik bagi bangsa yang beragam suku agama dan ras ini," sambungnya. Ferdinand kemudian keluar dari Partai Demokrat dan memilih berdiri bersama barisan pemerintah. Hingga sekarang, saya terap teguh dengan prinsip saya untuk mengawal Indonesia, menjaga Merah Putih dan Merawat Pancasila. Maka saya akan tetap digaris depan melawan antek-antek khilafah dan antek-antek radikalis hingga kapanpun. Saya cinta Republik berpancasila ini," tuturnya. (dal/fin).

Sumber: