Kurs Rupiah Melemah, Imbas Investor Harap-harap Cemas Data Inflasi AS Berpotensi Kerek Suku Bunga The Fed

Kurs Rupiah Melemah, Imbas Investor Harap-harap Cemas Data Inflasi AS Berpotensi Kerek Suku Bunga The Fed

Ilustrasi Rupiah (Gambar oleh iqbal nuril anwar- Pixabay)--

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Kurs rupiah melemah pada penutupan Kamis, 10 November 2022. Pelemahan itu merupakan imbas dari para investor yang tengah harap-harap cemas terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang baru akan dirilis nanti malam. 

Diketahui, besaran inflasi AS itu akan mempengaruhi keputusan bank sentral Amerika, Federal Reserve atau The Fed, terkait kebijakan moneternya yaitu menaikkan tingkat suku bunga acuan. 

BACA JUGA:Rupiah Naik Tipis Setelah Amerika Dipastikan Lolos Dari Jerat Resesi

BACA JUGA:The Fed Beri Sinyal Perlambat Kenaikan Suku Bunga, Rupiah Langsung Terapresiasi

Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB hari ini, kurs rupiah ditutup pada level Rp15.693 per dolar AS. Posisi itu menunjukkan pelemahan 36 poin atau 0,23 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan rupiah di pasar spot, Rabu 9 November 2022 yang berada di level Rp15.657 per dolar AS.

Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, mengatakan, data inflasi AS yang akan dirilis malam ini kemungkinan masih tinggi, sehingga hal itu akan memicu pengetatan moneter demi mengontrol laju inflasi tersebut. 

"(Inflasi tinggi) akan mendorong the Fed untuk melakukan lebih banyak pengetatan kebijakan moneter demi menurunkan inflasi," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Kamis sore.

Sebelumnya pelaku pasar berspekulasi bahwa the Fed akan menurunkan tingkat kenaikan suku bunga acuan. Pelaku pasar memperkirakan peluang 66 persen bank sentral akan menaikkan suku bunga lebih kecil 50 basis poin pada bulan Desember 2022, setelah beberapa pejabat Fed menyuarakan dukungan untuk langkah tersebut.

BACA JUGA:Bukan DP Nol Persen, Ini Jurus Baru Pemerintah Agar MBR Bisa Punya Rumah, Namanya Staircasing Ownership

BACA JUGA:Negara Ambil Alih AJB Bumiputera 1912

Namun Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari memperingatkan pada hari Rabu kemarin bahwa terlalu dini untuk mengharapkan kebijakan dovish dari the Fed, dan bahwa suku bunga acuan sepertinya akan tetap untuk terus meningkat.

"Ini juga mencerminkan pernyataan dari Ketua Fed Jerome Powell pekan lalu bahwa suku bunga AS akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, dan kemungkinan memuncak pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan semula," ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2022 diproyeksikan akan melambat secara moderat, di kisaran 5,1 persen. Ini juga menjadi sentimen negatif bagi rupiah sore ini.

"Faktor pemicu perlambatan adalah peningkatan inflasi yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya."

Sumber: