Inflasi Tinggi Amerika 8.3 Persen Berimbas Terhadap Pelemahan Kurs Rupiah

Inflasi Tinggi Amerika 8.3 Persen Berimbas Terhadap Pelemahan Kurs Rupiah

Ilustrasi Rupiah (Gambar oleh iqbal nuril anwar- Pixabay)--

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Inflasi Amerika Serikat (AS) bulan Agustus 2022 dilaporkan berada di level 8,3 persen (yoy). Meski melandai, namun nilai ini masih diatas ekspektasi dari Federal Reserve atau The Fed. 

Faktor tingginya inflasi Amerika itu kemudian memunculkan sikap hawkish The Fed, sehingga kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate sebesar 75 basis poin, kian dekat. 

(BACA JUGA:Inflasi Amerika Bulan Agustus Melandai, Namun Masih Jauh Dari Target The Fed)

(BACA JUGA:Menkeu Wanti-wanti BI Berhati-hati Melakukan Pengetatan Moneter, Jangan Sampai Bikin Perekonomian Jadi Ambyar)

Sentimen inilah yang kemudian menekan pergerakan mata uang di dunia, termasuk rupiah, di sepanjang perdagangan hari ini, Rabu 14 September 2022. 

Mengutip data Bloomberg, Rabu 14 September 2022 pukul 15.00 WIB, kurs rupiah ditutup pada level Rp14.907 per dolar AS, melemah 56 poin atau 0,38 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Selasa 13 September 2022 di level Rp14.851 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, mengatakan indeks dolar AS menguat pada Rabu. "Kenaikan terjadi setelah laporan inflasi AS yang masih lebih tinggi dari perkiraan," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu sore.

Tingkat inflasi AS pada Agustus 2022 menembus 8,3 persen yoy. Lonjakan indeks harga konsumen (CPI) ini masih lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 8,1 persen yoy.

(BACA JUGA:Investor Harap-harap Cemas Menanti Data Inflasi Amerika, Harga Emas Bergerak Mendatar)

(BACA JUGA:Update Harga Emas Antam 14 September 2022, Merosot Rp 8.000 Per Gram)

Namun, inflasi AS di Agustus ini merupakan yang terendah sejak April 2022. Sebagai catatan, pada Juli terjadi inflasi 8,5 persen, Juni 9,1 persen, dan Mei 8,6 persen. Adapun pada April inflasi tercatat sebesar 8,3 persen.

Penurunan inflasi dinilai dapat membantu The Fed mengurangi kenaikan suku bunga ke tingkat yang berpotensi mendorong ekonomi AS ke dalam resesi.

"Tapi tekanan harga tidak akan mengubah sikap hawkish The Fed," kata Analis Oanda Edward Moya, dilansir dari Associated Press, Selasa kemarin.

Ibrahim menjelaskan, para ekonom telah memperingatkan bahwa The Fed pada akhirnya dapat mendorong ekonomi Amerika Serikat ke dalam resesi yang dalam dengan kenaikan suku bunga paling tinggi dalam empat dekade terakhir.

Sumber: