Investor Harap-harap Cemas Menanti Data Inflasi Amerika, Harga Emas Bergerak Mendatar

Investor Harap-harap Cemas Menanti Data Inflasi Amerika, Harga Emas Bergerak Mendatar

Emas batangan internasional-Photo by Michael Steinberg -Pexels

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Harga emas relatif mendatar atau flat, Selasa petang, sebagai imbas dari para investor yang berhati-hati menunggu informasi data inflasi Amerika, untuk menghitung kenaikan suku bunga bank sentral Amerika, Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang.

Tercatat harga emas di pasar spot sedikit naik di posisi USD 1.724,19 per ounce pada pukul 14.29 WIB, setelah menyentuh level tertinggi dua minggu di USD1.734,99 pada sesi Senin karena depresiasi dolar. 

(BACA JUGA:Jangan Panik! Kenaikan Harga BBM Tak Pengaruhi Kepercayaan Investor Terhadap Ekuitas Indonesia Lho)

(BACA JUGA:Menkeu Wanti-wanti BI Berhati-hati Melakukan Pengetatan Moneter, Jangan Sampai Bikin Perekonomian Jadi Ambyar)

Demikian mengutip laporan  Reuters,  di Bengaluru, Selasa 13 September 2022. 

Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat melemah 0,3 persen menjadi USD1.734,90 per ounce.

"Ada ekspektasi inflasi menjadi jauh lebih lemah dan itu bisa membantu emas bergerak sedikit lebih jauh karena ekspektasi kemudian bisa menjadi kenaikan suku bunga The Fed yang kurang agresif setelah pertemuan September," kata Matt Simpson, analis City Index.

Data indeks harga konsumen Amerika, yang akan dirilis pada pukul 19.30 WIB, diperkirakan menunjukkan inflasi naik 8,1 persen (year-on-year) pada Agustus dibandingkan 8,5 persen pada bulan sebelumnya.

(BACA JUGA:Hari Ini Anies Baswedan Lengser, Kandidat Pj Gubernur Siap-Siap Duduki Kursi DKI 1)

(BACA JUGA:Data Pribadinya Dibobol dan Disindir Hacker Bjorka, Begini Respon Anies Baswedan)

Pembacaan tersebut menempatkan fokus pada pertemuan kebijakan 20-21 September The Fed, di mana bank sentral AS secara luas diperkirakan kembali memutuskan kenaikan suku bunga 75 basis poin.

"Kejutan dalam inflasi AS dapat mendorong penurunan emas seperti rumah kartu karena ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif melampaui kenaikan September," ujar Lukman Otunuga, analis FXTM , menambahkan, ada support kuat di sekitar USD 1.700.

Meski emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan  opportunity cost  memegang logam kuning yang juga mendongkrak dolar, di mana logam mulia itu dihargai.

Untuk hari ini, Indeks Dolar (Indeks DXY) turun 0,2 persen mendekati level terendah sejak 26 Agustus, yang disentuh pada sesi sebelumnya.

Sumber: