Ruang Cerita

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Dan sore itu, saya termasuk di antaranya.

Tanpa terasa, azan Magrib sebentar lagi akan berkumandang.

Kami pun membereskan barang-barang, menggandeng tangan Nezar, lalu berjalan perlahan meninggalkan tepian sungai.

Langkah kaki terasa ringan.

Bukan karena perjalanan pulang yang dekat.

Melainkan karena hati kami pulang membawa kenangan yang hangat.

Saya kemudian menyadari satu hal.

Liburan ternyata tidak selalu diukur dari seberapa mahal biaya yang dikeluarkan.

Bukan pula soal seberapa jauh jarak yang ditempuh.

Liburan sejatinya adalah tentang siapa yang menemani perjalanan itu.

Tentang tawa anak yang menggema di antara derasnya sungai.

Tentang genggaman tangan pasangan yang tak pernah lepas.

Tentang waktu yang sengaja dilambatkan agar keluarga bisa saling mendengarkan.

Di Jembatan Cisarum, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak pernah benar-benar jauh.

Ia ada di dekat rumah.

Berita Terkait