Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane
Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.
Ada di bawah langit sore.
Ada di hembusan angin yang membelai wajah.
Ada di derasnya Sungai Cisadane yang terus mengalir, mengajarkan bahwa hidup pun sebaiknya terus berjalan, apa pun yang terjadi.
Dan ketika nanti Nezar tumbuh dewasa, mungkin ia tak lagi mengingat jajanan apa yang kami beli sore itu.
Namun saya berharap, ia akan selalu mengingat bahwa pernah ada satu sore yang begitu indah.
Sore ketika ayah dan ibunya mengajaknya bermain di tepian Sungai Cisadane.
Sore ketika langit menghadiahkan senja terbaik.
Sore ketika kami menyadari bahwa keluarga adalah tempat pulang paling indah. (*)