Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane
Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.
Para pesepeda menjadikan jembatan merah ini sebagai salah satu titik favorit dalam rute gowes mereka.
Beberapa peziarah juga terlihat berjalan menuju makam Syeh H. Abdul Ateng Raksak Kusuma yang berada di sisi Rumpin. Di sekitar kawasan makam kini telah berdiri warung-warung kecil dan sebuah pendopo sederhana tempat orang-orang beristirahat sambil menikmati panorama Sungai Cisadane.
Tempat itu hidup b ukan karena bangunannya megah. Melainkan karena dipenuhi tawa, doa, dan cerita manusia.
Di tengah menikmati panorama, terdengar suara kecil yang begitu saya kenal.
"Ayah... turun yuk... mau main air."
Nezar, putra kami, rupanya sudah tidak sabar melihat jernihnya aliran Sungai Cisadane.
Awalnya saya hanya tersenyum.
Namun melihat wajah polosnya yang penuh harap, siapa yang tega menolak?
Kami pun turun menuju tepian sungai.
Baca Juga
Air yang dingin langsung menyambut kaki-kaki kecilnya. Ia tertawa lepas, memercikkan air ke sana kemari, seolah seluruh dunia sedang menjadi taman bermainnya.
Saya hanya berdiri memandanginya.
Sesekali membantu ketika ia terpeleset di bebatuan.
Sementara istri saya duduk di tepian, tersenyum melihat tingkah Nezar yang begitu menikmati setiap detik sore itu.
Tak ada gawai yang sibuk direbut.