Ruang Cerita

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Penghujung akhir pekan membawa saya, istri, dan putra kami, Nezar, menuju sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing bagi warga sekitar, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa baru setiap kali dikunjungi ke Jembatan Gantung Cisarum.

Saat Penat Kota Luruh Bersama Arus Cisadane

Tak ada notifikasi yang mengganggu.

Tak ada rapat pekerjaan.

Tak ada hiruk pikuk kota.

Yang ada hanyalah suara air, hembusan angin, tawa seorang anak, dan rasa syukur yang datang tanpa diminta.

Setelah puas bermain air, kami kembali ke atas jembatan.

Perut mulai meminta diisi.

Warung-warung kecil di sekitar lokasi menawarkan berbagai jajanan sederhana. Segelas minuman dingin, gorengan hangat, dan camilan khas kampung terasa jauh lebih nikmat ketika disantap sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik pepohonan.

Langit berubah menjadi kanvas raksasa.

Warna jingga berpadu merah, lalu perlahan berubah menjadi ungu kebiruan.

Siluet Jembatan Cisarum tampak semakin indah diterpa cahaya senja.

Orang-orang masih berdatangan.

Sebagian mengabadikan momen.

Sebagian lagi hanya duduk diam menikmati waktu.

Saya percaya, tidak semua orang datang untuk mencari foto.

Ada yang datang untuk mencari tenang.

Berita Terkait