"Jauh sebelum itu saya sudah punya keyakinan hoax tidak mungkin dilakukan oleh perusahaan pesaing. Pengusaha tidak mau melakukan itu," ujar Irwan.
Ternyata benar. Yang melakukan hoax bukan pesaing. Bahkan bukan pedagang. Dia seorang ibu rumah tangga biasa.
Sang ibu diundang Irwan ke pabrik Sido Muncul. Ditunjukkan padanyi modernitas pabriknya. Juga modernitas peralatan lab-nya. Akhirnya sang ibu mencabut postingannyi.
Bukan itu yang terpenting. Tapi mengapa sang ibu melakukan itu. Ternyata dia sendiri peminum Tolak Angin. Pun suaminyi. Dia memposting hoax semata hanya untuk meraih popularitas.
"Menjelekkan perusahaan terkenal akan ikut terkenal", itu prinsip orang seperti ibu itu. Sangat spontan. Lalu menyesal. Tapi sudah membuat kerusakan.
Bahwa Irwan tidak melaporkan ibu itu ke polisi, itulah kepribadian asli Irwan. Ia tipe orang yang tidak ingin cari musuh. Promosi Sido Muncul pun dilewatkan jalan kebaikan. Misalnya sambil melaksanakan operasi katarak. Atau bibir sumbing. Mudik Lebaran bareng.
"Kalau toh promosinya tidak berhasil sudah meninggalkan kebaikan. Dari pada promosi yang gagal dan tidak meninggalkan apa-apa," katanya.
Tidak mau mengadukan orang yang mencelakakannya juga didasari prinsip dalam hidup: harus ada orang yang mau mengalah.
Karena itu di dinding lobi hotel miliknya, Tentrem Semarang, ia pasang lukisan besar seorang ibu Tionghoa yang menasilhati anaknyi tentang pentingnya kebijaksanaan dalam hidup.
Diceritakan, di suatu zaman seseorang datang ke pasar membeli kain. Empat meter. Harga per meter 50. Si pembeli hanya membayar 150. Menurut si penjual 4x50 = 200. Menurut si pembeli 4 x 50 = 150. Keduanya saling ngotot, merasa paling benar.
Baca Juga
Mereka pun mendatangkan kepala desa: agar jadi penengah. Kepala desa berpendapat sama dengan penjual: 4 x 50 adalah 200. Tapi si pembeli tetap ngotot 4 x 50 adalah 150. Di dunia nyata memang ada orang seperti itu. Bahkan tokoh. Ia tetap merasa benar meski semua orang mengatakan salah.
Akhirnya kepala desa dan pembeli sepakat datang ke orang yang paling bijaksana di zaman itu: Konghuchu. Mereka sepakat apa pun kata Konghuchu harus dipatuhi. Mereka bertaruh: kalau pembeli yang salah siap dipotong lehernya. Kalau kepala desa yang salah siap kehilangan jabatan.
Keduanya pun datang ke Konghuchu disertai si pedagang. Di depan Konghuchu Kepala desa ngotot yang benar adalah 200. Si pembeli ngotot yang benar adalah 150. Masing-masing juga menceritakan taruhan mereka.
"Nabi Konghuchu, 4 x 50 itu berapa?" tanya kepala desa.
"150," jawab Konghuchu.