Oleh: Dahlan Iskan
Hujan lebat menyambut kedatangan saya di Ottawa. Cerita perjalanan lima jam Toronto-Baturaja-Ottawa ini saya simpan dulu. Tidak seseru perjalanan darat Lampung-Kingstone-Palembang.
Saya juga kangen mereka yang ikut tur bisnis Disway ke Semarang bulan lalu (Disway Explore Business with Dahlan Iskan – Jateng Series).
Ada peserta, wanita, yang sudah mapan berkarir di bank Amerika berhenti bekerja untuk mulai jadi pengusaha. Ada yang bisnis-sosial beromzet ratusan miliar.
Menulis tentang tur bisnis itu bisa untuk selingan dari kebosanan menulis cerita tentang jalan-jalan melulu.
Saya masih ingat: rombongan tur bisnis Disway itu berakhir di pabrik jamu farmasi Sido Muncul. Di Ungaran, selatan Semarang. Pimpinan tertinggi Sido Muncul sendiri yang menyambut kami: Irwan Hidayat.
Di akhir acara, rombongan dijamu makan siang istimewa di pendapanya yang gaya Jawa, di tengah hutan kecil, terpisah dari pabrik.
"Pohon yang bapak tanam dulu sekarang sudah besar. Tuh di sana. Yang batangnya lurus itu," ujar salah seorang manajer Sidomuncul yang ingat peristiwa lebih 12 tahun lalu.
Kala itu saya sedang menggalakkan tanaman empon-empon rakyat di sekitar hutan jati Perhutani. Perlu pasar yang bisa menampung jahe, kunyit, dan sebangsanya. Di acara itu saya diminta tanam pohon kayu manis.
Hutan di sekitar pendapa sekarang sudah rimbun. Sudah seperti hutan beneran. "Di dalam sana ada 14 harimau," kata Irwan Hidayat. Lebih banyak lagi binatang lain yang juga dikembangkan di dalam hutan.
Baca Juga
Semua binatang dirawat baik. "Kalau binatang saja disayang apalagi orang yang minum Tolak Angin dan Kuku Bima Ener-G," ujar Irwan berfilsafat.
Ungkapan itu sekaligus terasa seperti curhat mengenai buasnya ”harimau” di medsos zaman sekarang. "Ada saja hoax yang menjelekkan Sido Muncul," katanya.
Irwan tidak pernah mau menanggapi hoax. Ia punya prinsip sendiri untuk menghadapinya: terus memperbaiki diri dengan cara menutup celah kesalahan sekecil apa pun. Baik dalam produksi maupun dalam menjaga lingkungan," katanya.
Salah satunya: harus membangun lab yang modern dan mahal. "Agar kalau ada hoax soal mutu Sido Muncul langsung diadakan uji lab yang sangat ilmiah," katanya. Maka inilah satu-satunya industri jamu yang punya lab setingkat farmasi. Bahkan lebih tinggi dari sebagian perusahaan farmasi.
Pernah, suatu hari, Irwan cari tahu siapa pembuat hoax itu. Apa latar belakangnya. Ia kerahkan kekuatan untuk mencari orangnya. Ketemu. Tidak untuk diadukan ke polisi tapi agar tahu apa motif di balik hoax yang dibuatnyi.