Bawah Tanah

fin.co.id - 29/06/2026, 06:47 WIB

Bawah Tanah

Zaman itu ''indah'' dipertentangkan dengan ''kokoh''.

Setelah itu ilmu material sangat maju didukung ilmu kimia. Dulu yang terkait dengan material selalu bermuara di ilmu metalurgi. Kini, bahkan, sudah ada universitas yang menghapus jurusan metalurgi digabung ke ilmu material.

Anda sudah tahu: para arsitek lama sulit mencari bahan yang tipis tapi kuat. Bentuk indah yang mereka inginkan sulit terwujud. Pun bahan yang lentur; selalu punya kelemahan mudah patah.

Kini, dengan kemajuan ilmu bahan, sudah tersedia material ''yang tipis tapi kuat''. Atau ''yang lentur tapi tidak mudah patah''. Saya sering mengatakan kepada para arsitek: "Arsitek di zaman ini sangat dimanjakan oleh ketersediaan material yang sangat beraneka ragam".

Maka saya membayangkan alangkah mahalnya bila New York harus mengganti jaringan kereta bawah tanahnya yang kuno dengan yang serba-digital seperti di Tiongkok.

Jaringan kereta bawah tanah New York sudah sekitar 400 km. Berarti panjang relnya sudah sekitar 1000 km. Merombak barang sebanyak itu alangkah beratnya.

Memikirkan teknologi kereta bawah tanah itu saya ingat masa lalu: Jawa Pos adalah koran pertama di Indonesia yang fotonya berwarna. Kompas ngotot terbit hitam putih. Koran berwarna dianggap terlalu pop. Murahan. Koran hitam putih lebih elegan. Bermutu.

Saya ingat salah satu alasan bertahan yang dipakai Kompas: "New York Times saja tetap hitam putih". NYT adalah koran paling bergengsi di dunia.

Dianggap murahan, saya pun ''tersinggung''. Saya terbang ke Amerika. Ke New York. Saya ingin tahu: apa alasan New York Times tetap terbit hitam putih. Sedangkan harian USA Today sudah berwarna.

Saya pun dapat jawabnya: percetakan NYT itu sangat besar. Tidak mudah mengubahnya jadi berwarna. Begitu banyak mesin yang harus ''dibuang''. Begitu mahal kalau harus membeli mesin berwarna dalam jumlah besar sekaligus. Bahkan harus membeli tanah baru. Membangun gedung baru. Gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih. Kalau pun punya uangnya, tidak bisa cepat merealisasikannya.

Lima tahun kemudian NYT terbit berwarna.

Pun Kompas. Saya tersenyum dengan penuh kemenangan yang ternyata, kemenangan itu, kelak, juga tidak ada gunanya.

Saya membayangkan betapa berat mengubah kereta bawah tanah New York untuk jadi serba-digital. Lebih berat lagi mengubah kereta Indonesia. (Dahlan Iskan)

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis gaya hidup yang berfokus pada tren kecantikan dan fenomena viral. Berdedikasi mengulas tips perawatan diri yang praktis serta kurasi tren terkini di media sosial. Menyajikan informasi yang inspiratif, akurat, dan relevan bagi kebutuhan gaya hidup modern