Internasional . 16/06/2026, 22:45 WIB
fin.co.id — Pemulihan jalur perdagangan energi global yang penting, Selat Hormuz, tampaknya harus melewati proses yang bertahap. Meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati perjanjian damai, para ahli memperkirakan bahwa lalu lintas kapal komersial untuk kembali ke tingkat sebelum perang mungkin membutuhkan beberapa bulan karena ketidakpastian yang masih ada mengenai pembukaan kembali jalur air vital tersebut.
Perang di Timur Tengah ini sendiri bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik bersenjata tersebut akhirnya berakhir dengan kesepakatan setelah melalui proses negosiasi yang intens.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan informasi bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan semua operasi militer, termasuk aksi militer di Lebanon.
Terkait pembukaan kembali jalur laut ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya pada hari Jumat setelah kesepakatan tersebut. Pihak militer juga akan menetralisir sebagian besar ranjau yang tersebar di wilayah tersebut.
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Data dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menunjukkan bahwa rata-rata 130 kapal komersial melintasi jalur air tersebut setiap hari sebelum perang.
Namun, roda perang mengubah segalanya. Rata-rata lalu lintas kapal harian di selat tersebut turun lebih dari 90% setelah dimulainya perang, bahkan dengan beberapa hari hanya ada satu kapal yang melintas.
Perusahaan analitik Kpler mencatat pergerakan kapal yang sangat minim menjelang pertengahan Juni:
Pada tanggal 14 Juni, salah satu kapal terakhir yang melintasi selat tersebut adalah Disha yang berbendera Malta, yang membawa 132.000 meter kubik gas alam cair (LNG) dari Qatar ke India.
Walaupun pengumuman resmi kesepakatan damai AS-Iran sudah terdengar sejak Senin pagi, pelaku industri belum melihat adanya lonjakan signifikan. Tercatat hanya dua kapal yang berani melintasi jalur air tersebut pada hari Senin.
Kapal pertama adalah Kaiser, sebuah kapal kargo kering berbendera Saint Kitts dan Nevis. Kapal ini melintasi selat tersebut dengan muatan 27.000 ton menggunakan "rute Iran" yang ditetapkan di perairan teritorial Iran, dalam perjalanan dari Pelabuhan Umm Qasr Irak ke Oman.
Kapal kedua adalah Argo Maris, tanker minyak berbendera Honduras. Kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Bandar Abbas Iran dengan muatan 6.700 ton produk minyak bumi dan melintasi selat tersebut melalui rute Iran, meski tujuan akhirnya masih belum diketahui.
Para perwakilan industri menggambarkan proses pemulihan ini sangat rapuh. Pelaku usaha masih menyimpan ketidakpastian mengenai keamanan transit kapal melalui selat walaupun kedua negara sudah berdamai.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id