Internasional . 14/08/2026, 19:19 WIB

AI Makin Pesat, Mengapa Perusahaan Jepang Justru Lambat Mengadopsinya?

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat di berbagai negara. Teknologi ini mulai digunakan untuk menulis dokumen, menganalisis data, merangkum rapat, membantu layanan pelanggan, hingga menjalankan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia.

Namun, Jepang justru masih bergerak relatif lambat. Kondisi tersebut cukup paradoks karena negara ini menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja, populasi yang menua, serta masalah produktivitas yang perlu segera diatasi.

Data menunjukkan bahwa penggunaan AI di tempat kerja Jepang masih jauh dari optimal. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebut hanya 8,4 persen pekerja Jepang yang menggunakan AI dalam pekerjaan mereka.

Sebagai perbandingan, penggunaan AI di sejumlah negara maju telah berkembang jauh lebih cepat. Kondisi tersebut membuat Jepang menghadapi pertanyaan besar. Mengapa perusahaan di negara yang dikenal sebagai salah satu pusat teknologi dunia justru begitu berhati-hati dalam menggunakan AI?

Budaya Perusahaan yang Sangat Berhati-hati

Salah satu alasan utamanya berkaitan dengan budaya perusahaan Jepang yang cenderung mengutamakan konsensus, kestabilan, dan minimnya kesalahan.

Bagi banyak perusahaan Jepang, keputusan besar tidak selalu diambil dengan cepat. Berbagai pihak dapat dilibatkan sebelum sebuah teknologi baru diterapkan secara luas.

Pendekatan tersebut menjadi tantangan ketika diterapkan pada AI yang berkembang sangat cepat.

Kesalahan yang dilakukan sistem AI juga menjadi perhatian besar, terutama ketika teknologi tersebut digunakan dalam pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan.

Austin Xu, salah satu pendiri perusahaan AI asal Amerika Serikat, Kuse AI, mengatakan perusahaan Jepang cenderung membutuhkan lebih banyak bukti sebelum benar-benar mempercayai AI.

Perbedaan pendekatan terlihat jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Di sejumlah perusahaan AS, AI mulai diberi ruang untuk mencoba menyelesaikan pekerjaan, kemudian hasilnya diperiksa dan diperbaiki jika terdapat kesalahan.

Di Jepang, toleransi terhadap kesalahan cenderung lebih rendah. Akibatnya, perusahaan lebih memilih menggunakan AI untuk pekerjaan berisiko rendah daripada menyerahkan tugas penting kepada sistem yang masih dapat menghasilkan kesalahan.

AI Lebih Banyak Dipakai untuk Pekerjaan Sederhana

Kondisi tersebut membuat penggunaan AI di Jepang masih terkonsentrasi pada pekerjaan yang relatif aman.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id