Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk mengingat lukanya sendiri.
Pada akhirnya, puisi esai mengajak kita berhenti sejenak, menutup buku, lalu menatap cermin.
Sejarah bukan hanya peristiwa di luar kita, tetapi juga perjalanan batin kita sendiri.