Tokohnya Lina yang menunggu suaminya hilang sejak 1998. Selama lebih dari 400 Kamis ia datang dengan pakaian hitam dan syal kuning.
Ia tidak berteriak.
Ia hanya menunggu.
Namun penantian itu berubah menjadi simbol perlawanan moral.
Link buku
https://drive.google.com/file/d/1NnNQIkUg8OB9fDjpWEfIvXY6M2A0imdX/view?usp=sharing
3. Jeritan Setelah Kebebasan (2015)
Buku ini merekam konflik etnis dan agama setelah Reformasi.
Maluku, Sampit, kerusuhan 1998, pengusiran Ahmadiyah, hingga konflik Lampung dihadirkan dari sudut pandang korban.
Puisi esai membuat sejarah yang sering dipadatkan menjadi angka kembali memiliki wajah manusia.
Link buku
Baca Juga
https://drive.google.com/file/d/1xGrTptdlDqlUN3STvwIcoYyc_sNv_Vtn/view?usp=sharing
4. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024)
Buku ini menghadirkan korban yang jarang muncul dalam buku sejarah: romusha, jugun ianfu, nyai, dan anak-anak yang lahir dari hubungan kolonial.
Kemerdekaan ternyata tidak dirasakan oleh semua orang.