“Sejarah acapkali ditulis oleh pemenang. Tapi puisi esai justru merekam sejarah dari mereka yang kalah dan menjadi korban.”
Demikian dinyatakan Denny JA ketika delapan buku puisi esainya dipublikasikan kembali untuk memperkenalkan kepada publik perjalanan panjang sejarah Indonesia dan dunia melalui karya sastra.
Menurut Penerbit CBI, yang menjadi sumber rilis ini, delapan buku tersebut tidak sekadar kumpulan karya puisi. Ia membentuk satu rangkaian karya sastra yang merekam luka sejarah, pengalaman manusia, serta perjalanan batin masyarakat dalam menghadapi konflik, diskriminasi, tragedi politik, hingga bencana ekologis.
Melalui puisi esai, sejarah yang sering tampil sebagai angka dan kronologi dalam buku pelajaran dihadirkan kembali sebagai kisah manusia yang hidup.
Sebuah Kisah yang Membuka Luka Sejarah
Di sebuah stasiun kereta yang sepi, seorang perempuan duduk setiap hari Kamis. Ia mengenakan selendang kuning yang sama, tahun demi tahun. Orang-orang yang lewat mengira ia hanya menunggu seseorang yang terlambat datang.
Namun yang ia tunggu sebenarnya adalah sejarah yang belum selesai.
Namanya Lina.
Suaminya pergi ke Jakarta pada Mei 1998, ketika negeri ini dilanda kerusuhan dan kekacauan. Ia berkata akan kembali hari Kamis. Hanya itu. Sebuah janji sederhana yang tampak biasa.
Namun Kamis berlalu.
Lalu Kamis berikutnya.
Baca Juga
Seratus Kamis berlalu.
Empat ratus Kamis berlalu.
Ia tetap datang.
Di Jakarta, para keluarga korban penghilangan paksa berdiri diam di depan Istana Negara setiap Kamis. Mereka memegang payung hitam. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak membawa kemarahan. Mereka hanya berdiri.