Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T menyebut Denny JA sebagai pelukis Indonesia pertama yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.
-000-
Dalam sejarah seni Indonesia, teknologi selalu hadir, dari fotografi hingga digital printing. Namun Denny JA menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat konseptual, bukan sekadar teknis.
Ia memanfaatkannya untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka.
Ia tidak sekadar menciptakan gambar. Ia membangun karakter dan lanskap moral.
Dalam karya lain yang sempat mengundang diskusi luas, Denny JA menggambarkan Paus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik. Bukan di altar, melainkan di jalan raya.
Karya tersebut menjadi viral beriringan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta. Di pinggir jalan, mobil Paus berhenti. Paus membuka kaca mobil dan memberkati lukisan Denny JA itu. Peristiwa langka ini menjadi berita viral saat itu,
Lukisan itu memindahkan simbol agama ke ruang sosial dan menempatkan spiritualitas di tengah kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana serial Sumatra Menangis, karya tersebut bukan dokumentasi, melainkan tafsir sosial.
-000-
Baca Juga
Dalam konteks global, pendekatan Denny JA mengingatkan pada Francisco Goya yang melukis kengerian perang, Edvard Munch yang memvisualkan kecemasan eksistensial, serta Frida Kahlo yang menjadikan tubuhnya kanvas penderitaan kolektif.
Perbedaannya terletak pada keberanian menggabungkan realisme manusia Indonesia dengan lanskap ekologis yang menjadi tokoh dramatis utama.
Ia tidak melukis perang antar manusia. Ia melukis perang manusia melawan keserakahannya sendiri.
Ia menempatkan alam bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang bersuara.
-000-